BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

SINEMA POJOK #2 – INDONESIA CALLING

indonesia Calling

Poster SINEMA POJOK #2 – INDONESIA CALLING

Indonesia Calling (Indonesia memanggil) 

Director: Joris Ivens | 1946 | Australia

English & Indonesia  | Subtext: Bahasa Indonesia

Durasi: 22 minutes

Indonesia Calling (Indonesia Memanggil) adalah sebuah filem dokumenter pendek Australia 1946, yang disutradarai oleh Joris Ivens dan diproduksi oleh Federasi Pekerja kemudian Waterside. Filem ini memberikan kilasan langsung pasca-Perang Dunia II Sydney sebagai serikat buruh pelaut dan pekerja pasisir menolak untuk melayani kapal-kapal Belanda (dikenal sebagai “Black Armada”) yang berisi senjata dan amunisi yang ditujukan untuk Indonesia untuk menekan gerakan kemerdekaan negara itu.

Ivens memfilemkan peristiwa yang terjadi itu secara bertahap sebagai simbol bahkan bagi mereka yang tidak melihat film dan yang mengikuti perkembangannya di Belanda, jauh sebelum filem ini memiliki penonton. Joris Ivens mengalami penganiayaan dari sikapnya tentang Belanda dan Indonesia. Paspor Belanda milik Iven disita oleh pemerintah Belanda selama beberapa bulan untuk memantau keberadaannya. Akhirnya pada tahun 1985 Pemerintah Belanda mengghadikan Ivens “Golden Calf”. Pada upacara tersebut Menteri Belanda berpidato dan dalam kata-katanya, “Tak lama setelah perang, dukungan untuk hak Indonesia untuk menentukan nasib sendiri dan filem yang Anda: Indonesia Calling, membawa Anda ke dalam konflik dengan pemerintah Belanda (…) sekarang bisa saya katakan bahwa Sejarah berpihak di sisi Anda dari pada di sisi musuh Anda ”

Indonesia Calling is a 1946 Australian short documentary film directed by Joris Ivens and produced by the thenWaterside Workers’ Federation. The film gives a glimpse of immediate post-World War II Sydney as trade union seamen and waterside workers refuse to service Dutch ships (known as the “Black Armada”) containing arms and ammunition destined for Indonesia to suppress the country’s independence movement. Ivens filming of the events taking place gradually became a symbol even for those who had not seen the film and had a growing following in the Netherlands, long before the film had an audience. Joris Ivens suffered persecution from his stance about the Dutch and Indonesia. Ivens had his Dutch passport seized by the Dutch authorities for a few months at a time in order to monitor his whereabouts. Finally in 1985 The Dutch government presented Ivens with a Golden Calf. At the ceremony the Dutch minister gave a speech and in his words, “Shortly after the war, your support for Indonesia’s right to self-determination and your film Indonesia Calling brought you into conflict with the Dutch government (…) I can now say that history has come down more on your side than on the side of your adversaries”

sumber deskripsi filem: From Wikipedia, the free encyclopedia Indonesia Calling

Jadwal Tayang:

Jumat, 23 Oktober 2015

20.00 WIB

Jln. Datuak Parpatiah Nan Sabatang, No 53, Aia Mati, Kota Solok

Free!

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

On Twitter

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: