BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Musik Tanpa Batas jilid VI

11390191_361877744010011_4476825021376717154_nCENDANANEWS (Padang Panjang) –- Pada malam minggu kemarin Ota Rabu Malam dibawah sokongan Himpunan Mahasiswa Jurusan Seni Karawitan ISI Padang Panjang, kembali menggelar pertunjukan Musik Tanpa Batas (MTB) jilid VI. Enam  peserta tampil memukau dengan gaya garapan yang berbeda-beda, di Gedung Auditorium Boestnoel Arifin Adam ISI Padang Panjang, pada 30 Mei 2015. 20.00 WIB.

Harmonic dan Grup Ansambel Cello memainkan tiga reportoar lagu yang  populer di masanya. Seperti Lagu Ayam Den lapeh, Si Nona, dan Cobalah Mengerti (Peterpan). Tantangan mereka, bagaimana membuat perbedaan dari lagu yang sudah akrab dengan telinga itu.
“Ada tantangan tersendiri, orang cendrung membandingkan karya yang populer dengan yang ditampilkan. Tapi Grup Harmonic membuatnya berbeda, cukup memukau, penonton termasuk saya beberapa kali merinding dengan kejutan yang tak terduga. Ditambah lagi permainan ansambel tanpa vokal itu, membuat musiknya menjadi lebih universal. Keterbatasan bahasa dan pengetahuan tentang makna lagu tak akan mengurangi esensi dan eksistensinya malam itu,” ujar Albert Rahman Putra, seorang kurator dan penggagas Festival rutin MTB ini pada cendananews, Senin (1/6/2015) malam.
Dipementasan kedua, grup Karaktrondol mengusi telinga penonton dengan fenomena musikal tangga nada pentatonik. Nada-nada pentatonik dikembangkan dengan beberapa instrumen yang berbeda. Karakter nada kontour (pergerakan nada) dan interval (loncatan nada) yang biasa hadir pada instrumen saluang, sampelong, kecapi, serta pada beberapa  kesenian china dan jawa, dapat menyatu harmonis dalam satu karya baru. Menyimaknya membuat kita menebak-nebak, apakah mereka sedang bermain china atau jawa atau minang, tapi secara keseluruhan juga membuat kita melupakan perbedaan-perbedaan itu dan menyatu dalam satu perayaan keberagaman.
“Sangat sejalan sekali dengan Visi Musik Tanpa Batas: Dengan musik merayakan perbedaan dan kebebasan,” lanjut Albert.
Lain halnya dengan Grup Ge Coustic, mereka menyajikan satu lagu dengan gaya vokal grup dan diiringi satu instrumen gitar dan satu instrumen perkusi. Grup ini dimainkan oleh 5 orang perempuan muda yang cemerlang.
“Saya kenal persis mereka, mereka tidak hanya bergelut dengan satu kelompok seperti garapan seni vokal ini, sebelumnya di Musik Tanpa Batas pertama mereka juga hadir sebagai kelompok musik perkusi yang seluruh anggotanya juga perempuan. Kita sangat menyambut baik kehadiran mereka, terutama melihat sepinya seniman musik perempuan di Sumatera Barat yang unjuk gigi. Kehadiran mereka, terutama dengan garapan musiknya yang tak kalah hebat, seakan bukti eksistensi perempuan yang tidak berada satu level di bawah laki-laki,” Jelas Albert.
Dari grup yang mengangkat kearifan lokal, Grup Badut jadi pahlawannya. Tradisi rabab pasisia (Minangkabau) jadi pemikatnya. Prinsipnya rabab adalah instrumen pengiring seni vokal (dendang kaba), namun mereka mengelaborasi ‘seni vokal’ itu sendiri. Grup yang terdiri dari dua orang pemain rabab, dan satu orang peman gendang. Pemain rabab yang sekaligus menjadi pedendang tersebut memainkan beberapa syair dengan beberapa gaya bahasa mancanegara, seperti bahasa China, Korea, Jepang, India dan tentunya bahasa Minang juga.
“Ini perkejaan yang sulit, karena bahasa-bahasa tersebut, di luar mengerti-atau-tidaknya dengan arti yang disampaikan, ia memiliki karakter bunyi (intonasi dan fonem) yang khas pada masing-masing. Intonasinya sangat berbeda dengan Minang, dan itulah yang mereka ekperimentasikan. Seperti yang juga ditampilkan Karaktrondol, dengan mudah kita bisa merasakan kapan karakter nada China muncul, Jawa, Sampelong (Payakumbuh) dan sebagainya, karena kita secara tak sadar memang sudah mengenal karakter bahasa itu,” tutur Albert.
Menurut Albert, penampilan mereka melalui medium rabab yang selama ini diketahui hanya mengiringi karater (termasuk unsur bunyi kata) bahasa Minang, cukup memancing rasa penasaran dengan kemungkinan yang terjadi, terhadap karakter bahasa asing tersebut. Yang mengagumkan, beberapa diantaranya terdengar harmonik dengan gesekan rabab itu. Poin lainnya dari grup ini, adalah kemampuan garapannya yang sangat komunikatif dengan penonton.
“Setelah satu siklus, penonton dapat mengiringi atau terlibat dalam siklus berikutnya. Misal setiap akhir kalimat melodi si pedendang satu menyebut asoy, lalu disambut oleh pedendang dua dengan ngeboy, pada siklus berikutnya bagian ini diambil alih oleh penonton sehingga pertunjukannya sangat heboh,” lanjut Albert.
Masih dari Sumatera, Kelompok Seni (KS) GABE dari Bengkulu, GABE membuat penonton hampir bertepuk tangan setiap lima detik. Barang kali karena penonton rata-rata bukan dari Bengkulu atau jarang menyaksikan pertunjukan Dol Bengkulu. Tapi Mak Lenggang, salah seorang komposer Talago Buni, yang telah terlibat dalam berbagai event musik dunia, dan waktu itu berkebetulan hadir, pernah meneliti Dol Bengkulu itu cukup lama. Ia mengakui bahwa Grup KS GABE ini memang lebih menonjol dari grup lain yang sudah pernah ia saksikan. KS GABE ini membawakan satu komposisi musik yang ia beri judul “Melarak” yang artinya memisah atau melerai.
“Penampilan ini kembangkan dari pola pukulan suwena, suweri, dan tamatam, yang selalu hadir dalam upacara Tabot di Bengkulu.  Lebih dari itu, kelompok musik ini begitu atraktif, tegas, rampak dan energik, garapan musikalnya sangat menyatu dengan performance atau koreografinya. Setiap gerakan berlangsung seakan ‘sebab akibat’ dengan pukulannya, seperti telah dilatih dengan waktu yang sangat lama dan matematis. Satu kelalain dari anggota saya kira akan berdampak pada musikalnya. Jadi sangat perlu kehati-hatian dan gerakan yang pasti,” jelas Mak Lenggang.
Ethnic Percussion menjadi grup penutup. Grup Asal Padang Panjang, ini tidak kalah memukau beragam materi perkusi kulit yang terdapat di Sumatera jadi instrumennya. Musiknya yang kaya, membawa cita rasa musik dari semua daerah Sumatera. Termasuk didalamnya beberapa gaya Bengkulu, Batak, dan bermacam pukulan perkusi Minang lainnya yang mendominasi. Mereka juga tampil atraktif, mereka tidak tampil kaku dan matematis, setiap pemain berekspresi secara natural disetiap lantunan perkusinya, sehingga lebih terkesan ‘merakyat’.
Musik Tanpa Batas 6 diakhiri dengan sesi diskusi singkat, setiap kelompok saling memperkenalkan konsep yang mereka mainkan. Selain itu juga terjadi silang budaya yang menarik, yaitu ketika KS GABE dan Ethnic Percussion saling bertukar materi musikal. KS Gabe memperkenalkan tiga pola khas Dol bengkulu (suwena, Suweri, dan Tamatam) pada Upacara Tabot, dan Ethnic Percussion memperkenalkan beberapa pola pukulan pada kesenian Gandang Tambua, yakni Oyak Tabuik pada pesta Tabuik. Dua kesenian itu, secara tradisional sama-sama dipertunjukan peringatan kematian Hasan dan Husain pada tanggal 1-10 Muharam. Bengkulu menyebutnya Tabot, sedangkan Minangkabau menyebutnya Tabuik.
(Musik Tanpa Batas ‘MTB’ adalah program persentasi karya musik bulanan, yang diluncurkan pada 30 Oktober 2014. Merupakan pengembangan dari disksusi minggu Ota Rabu Malam yang secara intens membahas perkembangan musik di Sumatera)
———————————————————–
Selasa, 2 Juni 2015
Jurnalis : Muslim Abdul Rahman
Artikel ini dilansir dari alamat berikut: http://www.cendananews.com/2015/06/mtb-jilid-vi-keuniversalan-musik-dari.html

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: