BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Surau dan Kurenah Kini

DSC_0078

Di atas panggung itu, beberapa anak-anak berjalan melintas dengan pola yang acak. Salah satu dari mereka membuat garis kemudian melompat bergantian. Sebagian lainnya berlarian saling bekejaran. Lalu sang guru datang, semua memasuki panggung surau, belajar mengaji. Semua mengikuti sang guru mendendangkan ikrak.

Deskripsi singkat di atas adalah bagian dari pertunjukan karya Rono Lamo Kurenah Kini, Sebuah karya yang dipresentasikan oleh Rio Eka Putra pada tanggal 21 juli 2014 lalu. Karya komposisi musik ini dipresentasikannya di Gedung Pertunjukan Hoeriijah Adam ISI Padangpanjang sebagai pelengkap tugas akhirnya di program Pascasarjana ISI Padangpanjang.

Rono Lamo Kurenah Kini adalah representasi kehidupan pada priode surau yang memaparkan kembali sistem pembelajaran ala surau. Surau di Minangkabau menurut Rio Eka Putra dahulunya adalah sebuah lembaga pendidikan yang berperan penting membentuk proses sikap anak-anak (mentalitas) di Minangkabau. Sejak masuknya Islam di Minangkabau yang mendatangkan revolusi budaya besar-besaran itu Agama ikut mendapat porsi penting dalam kehidupan masyarakat seperti halnya adat sebelum agama. Agama ikut memberikan syariatnya untuk membimbing masyarakat dalam menjalani kehidupan. Adat yang sebelumnya membimbing masyarakat dalam aspek duniawi kini diperkuat oleh kehadiran agama.

Kehadrian agama memberikan kesadaran kepada masyarakat bahwa ada sebuah kehidupan setelah kematian. Kehidupan akhirat, semua orang akan menuju ke sana. Orientasi ini diperkuat dengan adanya konsep surga dan neraka yang diyakini oleh umat Islam sebagai tempat pertanggung jawaban apa yang telah dilakukan umat manusia di dunia ini dihadapan sang pencipta.

Setiap kelakuan buruk di dunia diberi hitungan dosa. Dosa harus dibersihkan di neraka, sebuat tempat yang prioritaskan untuk orang-orang yang berbuat kejahatan dan tidak menjalankan syariat agama selama di dunia. Lalu sebaliknya, konsep sorga hadir sebagai tempat orang-orang yang selalu berbuat kebaikan dan menjalankan syariat agama setelah di dunia. (beberapa aliran percaya bahwa setalah dosa dibakar di neraka mereka akan menuju sorga, lalu ada juga keyakinan untuk beberapa kategori dosa yang membuat seseorang kekal di neraka).

Kehadiran dua konsep sorga dan neraka ini memberi kesadaran pada manusia untuk selalu berbuat kebaikan dalam kehidupan bermasyarakat serta menjalankan syariat agama. Sehingga setiap aktivitas adat yang sebelumnya bertentangan dengan agama harus ditinggalkan, lebih dari itu, umat manusia diminta untuk mengikuti syariat agama untuk mencapai kesejahteraan duniawi ataupun akhirat. Di sinilah surau hadir sebagai wahana yang menawarkan bimbingan itu.

Surau yang pada pokoknya merupakan tempat ibadah, juga merupakan tempat menuntut ilmu yang berbasis duniawi ataupun akhirat. Di surau orang-orang tidak hanya shalat dan mengaji, anak-anak juga tidak hanya belajar mengaji atau belajar shalat. Mereka juga dibimbing untuk menjalani kehidupan yang baik berdasarkan perspektif “adaik basandikan syarak, syarak basandikan kitabullah”. Gambaran surau yang cukup menarik dapat kita lihat dari filem Harimau Tcampa, karya filem garapan D. Djajakusuma, 1953 . Memang filem ini tidak tengah menggambarkan kehidupan surau secara menyaluruh, namun dari kisah Lukman ini kita bisa melihat kurang lebih kehidupan priode surau diantara feodalismei datuk-datuk Minangkabau.

Lukman adalah seorang pemuda yang hendak belajar silat, mula-mula ia memohon diangkat sebagai murid pada datuk langit, namun ia tidak mampu memenuhi persyaratan sebayak tiga ekor kerbau. Kemudian ia bertemu dengan seorang guru surau. Di Surau itu kita bisa melihat, anak-anak bujang yang belajar silat, mengaji, dan tidur di surau itu. Setiap saat mereka mendampingi dan didampingi seorang guru hingga putus kaji.

Putus kaji adalah saat-sat seorag murit bisa dikatakan telah memhami setiap pelajaran yang diberikan padanya.
Selain itu, di luar surau, kita sekaligus bisa melihat kebiasaan masyarakat yang suka berjudi, bentak-membentak, kemudian berujung pada perkelahian. Sang guru memarahi Lukman, bukan demikian capaian yang diharapkan dari seorang anak surau. “Lawan pantang dicari, basuo pantang dielakkan.” Berbeda dengan Lukman yang pada filem itu dia lah yang memulai perkelahian. Artinya surau, selalu membimbing setiap muridnya baik itu dalam pergaulan, spirtual, dan lain sebagainya. Namun pendidikan surau pun ternyata tidak bisa dipastikan selalu mencentak generasi muda yang diidamkan. Sang Guru akhirnya gagal mendidik mental Lukman, ia masuk penjara, kemudian melarikan diri dan membalas kematian ayahnya.

Persoalan ini lah yang barang kali kurang dihadirkan oleh Rio saya kira. Karya pertunjukan Rono Lamo Kurenah Kini, jika dilihat dari konteks kehadirannya kini, bagi saya terlihat sebagai keinginan untuk merevitalisasi cita-cita priode surau dan tentunya juga berbarengan dengan kritik atas apa yang sedang terjadi di era ini. Dan bagi saya karya ini menyisakan kepada kita beberapa pertanyaan, apa yang terjadi di luar surau sehingga kita memang membutuhkan surau?. Apa setiap orang benar-benar dididik di surau? Apakah setiap berhasil dididik surau?

 

Albert Rahman Putra

*Foto oleh Rayhan Redha Febrian

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: