BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Gulag

Awal tahun 2014 ini dunia kembali dibikin resah, Ukraina ditundukan oleh para ekstrimis anti-pemerintahan, kemudian presidennya melarikan diri. Rusia dengan alasan menagih hutang dan melindungi kepentingan etnis rusia, yang menjadi mayoritas di Ukraina, ingin merebut negeri berdaulad itu. Saya beruntung bisa mengikuti perkembangan konflik ini dari beberapa media. Pada maret 2014 kemarin, tentara Rusia telah menduduki Khimeria. 200 pasukan beladiri tanpa senjata rusia mengibarkan bendera Rusia di menara Angkatan Laut pelabuhan Sevastopol. Tidak ada perlawan dari tentara Ukraina.[2]

Satu hari sebelum pengambil-alihan itu, Rusia menandatangani perjanjian dengan penguasa setempat untuk membuat Krimea menjadi bagian Rusia. Karena menurut hasil voting, lebih dari 90% lebih warga Kimeria memutuskan untuk mejadi bagian dari Rusia. Aksi Rusia ini direspon buruk oleh Uni Eropa dan Amerika dengan alasan langkah yang ditempuh Putin, Presiden Pusia, adalah ilegal. Menurut mereka voting dibawah todongan senjata hanyalah ‘sirkus’. Kemudian pihak Rusia dihadapan parlemennya menyebut aksi ini adalah legal, Rusia adalah bagian tak terpisahkan dari Ukraina. Hal ironis tecermin dalam proses sikap (mentalitas) tentara Rusia yang memperlakukan para wartawan dengan kasar dan menyita kamera serta menghapus foto dan video liputan.[3]

***

Cover Album Beirut - Gulag Orkestar 2006, karya foto Segey Chilikov.

Cover Album Beirut – Gulag Orkestar 2006, karya foto Segey Chilikov.

Masalah ini menghantar ingatan saya pada sebuah group Balkan-folk-music[4] serta pada beberapa sosok seniman yang bagi saya cukup berpengaruh dalam mengawal era-kontemporer Rusia. Pada tahun 2006 Di New Maxico, Beirut (group musik) Amerika ini meluncurkan album studionya bertajuk The Gulag Orkestar. Album ini di produksi dalam dua versi. Versi pertamannya berisi tembang dengan judul-judul: “The Gulag Orkestar”, “Prenzlauerberg”, “Brandenburg”, “Postcards from Italy”, “Mount Wroclai (Idle Days)”, “Rhineland (Heartland)”, “Scenic World”, “Bratislava”, “The Bunker”, “The Canals of Our City”,dan“After the Curtain”. Dan pada versi dua (UK Version) terdapat tembang: “Elephant Gun”, “My Family’s Role in the World Revolution”, “Scenic World”, “The Long Island Sound”,dan “Carousels”.

Group ini sangat dipengaruhi oleh sepak terjang Zach Condon dalam dunia musik. Condon pada saat remaja adalah peniup trompet dengan genre Jazz,tapi Jazz tentu bukanlah satu-satunya yang melatari perkembangan musikalnya. Setelah ia di drop-out dari Santa Fe High School, ia bekerja di Bioskop yang menyajikan filem-filem internasional.  Disana ia tergelitik oleh spirit Federico Fellini, seorang filmmaker asal Italia yang berkali-kali meraih Oscar dan cukup berpengaruh dalam perkembang dunia seni filem. Fellini menggabungkan fantasi dan gaya era barok (roma klasik 1600-an). Kemudian dari bioskop dan filem Fellini pula ia mulai mengenal Arias, gaya perpaduan opera ensamble dan orkestra yang pada awalnya berkembang pesat di Prancisdan Italia. Kemudian karakter funeral music (musik pemakaman) masyarakat sisilia (italia) yang menggunakan perangkat brass.[5]

Sebelumnya Beirut adalah sebuah group yang dibentuknya untuk project Santa Fe Nativen, baru kemudian ia membekukannya menjadi sebuah band dan melahirkan debut album pertamanya Gulag Orkestar.

“They call it night, they call it night, and I know it well.”

 Demikian satu kalimat yang menjadi syair untuk lagu andalan yang sekaligus menjadi nama album itu: Gulag Orkestar. Gulag adalah singkatan (Glavnoye upravleniye lagerey i koloniy), sebuah badan pemerintahan Soviet Era Josef Stalin untuk mengelola kamp kerja paksa. Badan ini diresmikan pada tahun 1930 dan diakui sebagai instrumen utama represi politik Uni Soviet berdasarkan pasal 58 ( RSFSR KUHP )[6]. Nama Gulag juga dikenang untuk menamai kamp kerja paksa itu sendiri dan mulai meluas bersama karya seorang penerima nobel 1970 untuk karya sastra; Aleksandr Solzhenitsyn. Dalam karya novelnya ‘The Gulag Archipelago’ (1973) ia menghadirkan kembali setting era 1915 hingga 1956, wilayah kerja paksa itu dijulukinya sebagai “Pulau Rantai”, tempat berlakunya sebuah sistem tempat orang-orang dipaksa bekerja sampai mati. Fenomena itu sempat melahirkan sebuah kontroversi dalam kalangan kaum pelajar Rusia. Terutama setalah terungkap tingginya angka kematian di kamp kerja paksa ini. Beberapa kaum pelajar sependapat dengan padangan yang dilontarkan Solzhenitsyn, tapi ada juga yang menganggap bahwa situasi yang terjadi tidak sekejam seperti yang digambarkan.

Saya kira memang sulit memastikan ‘kebenaran’ pada masa itu, kita tahu sejak berkuasanya Stalin, Rusia adalah lorong ideology yang dikonstruksikan. Pada tahun 1932, Stalin bersama beberapa seniman lainnnya tengah merumuskan proyek realisme sosialis. Melalui proyek ini Stalin dan kawan-kawan membangun sebuah ‘standar legitimasi seni’ demi terwujudnya rusia yang cerah. Rusia hari ini  adalah sebuah kebenaran yang heroik (maksudnya era-soviet-stalin), demikian capain dari kesepakatan itu. Serta pada tahun 1946, dikumandangkannya “teory bezkonfliknozt” bahwa : seni harus mencerminkan masyarakat Soviet yang tak berkelas, dan  hampir mencapai cita-cita komunis.[7]

Stalin dan koleganya percaya bahwa seniman mampu menciptakan manusia – manusia baru. Seni tidak lagi menampilkan karya – karya yang menggambarkan ketegangan, konfil, ataupun penidasan.

Pada abad 19, di Eropa realisme menjadi favorit kalangan seniman dan sastrawan dalam mengawal sejarah. Terutama setelah hadirnya teknologi yang menghasilkan budaya fotografi, pada saat itu realisme adalah realitas yang ditanggkap dan hadirkan kembali sebagaimana adanya, tanpa waham dan angan-angan. Begitu juga di prancis, Emil Zola – sastrawan –  selalu membawa kamera kemana – mana. Orang-orang ini yakin realitas dapat dibersihkan dari ilusi dan misteri (Goenawan Mohamad). Tapi di ketiak Stalin, karya – karya seperti lukisan“pemecah batu” Coubert (1894) mulai sulit untuk ditemukan. Alasanya cukup jelas: menjaga stabilitas. Coubert adalah seorang pelukis Prancis yang juga menyebut pergerakannya sebagai Realisme Sosialis, namun baginya realisme sosialis adalah semangat pembebasan. Karya Coubert, memberikan kesadaran bahwa ideologi yang berkuasa pada waktu itu belum mampu membebaskan manusia dari beban berat, dan hal sangat berbeda dengan ralisme sosialis yang dirumuskan oleh Stanlin.

Hal menarik lainnya terjadi di Indonesia pada era 1960-an, seperti yang terkuak jelas dalam filem The Act of Killing (Joshua Oppenheimer; 2013). Kaum komunis memboikot filem-filem dari Amerika, merugikan para pemuda bioskop seperti Anwar Congo, kemudian oleh pihak contra-komunis (yang waktu itu berkuasa) memberi tugas khusus pada media untuk membuat orang-orang membenci PKI (Partai Komunis Indonesia), dan setelah komunis dilenyapkan, kebenaran didoktrin melalui filem seperti Pengkhianatan G30S/PKI (1984) karya Arifin C. Noer atas pesanan dari Pusat Produksi Filem Nasional (PPFN). Filem ini menjadi tontonan wajib untuk setiap sekolah negeri, dan juga disebarkan melalui media TVRI, serta waji dirilei oleh stasiun TV swasta setiap tahunnya ditanggal 30 September.[8] Tujuan filem ini hampir sama dengan yang dilakukan melalui media pers pada masa itu. Yaitu, untuk membasuh pikiran rakyat dengan kebenaran tunggal: Betapa kejamnya PKI!. Filem yang dihadirkan mengajak kita memaklumi krisis kemanusian atas nama ideologi yang terjadi dibawah rezim penguasa. Kehadiran instrumen kebudayaan seperti Bioskop, Teater, ruang pameran, Gedung pertunjukan, dan media massa dengan mudah melestarikan kekuasaan diktator atau penguasa pada massa itu. Akhirnya rakyat bisa menerima doktrin itu sebagai kebenaran tunggal dan tanpa perasaan akan penindasan.

***

Pada tahun 2011 Schilt Publishing menerbitkan beberapa karya Fotografi terpilih Sergey Chilikov dalam bentuk buku. Fotografi dalam karya itu adalah footege yang diambil Chilikov sejak 1970 hingga tahun 2000-an. Chilikov tidak hanya dikenal sebagai seorang photographer kontemporer, di Rusia ia juga dikenal sebagai seorang filolog dengan gelar PH.D, ia mengajar di beberapa universitas di Yoshkar-Ola. Pada tahun 1993 ia menerbitkan buku pertamanya tentang filsafat analitis dengan judul: Artseg. The Owner of a Thing or Ontology of Subjectiveness. Buku ini tidak cukup terkenal dan saya kira juga tidak tersebar di Indonesia. Nama Sergey Chilikov mulai akrab dengan saya setelah beberapa kali mengapresiasi karya fotografinya – dengan gaya yang saya sebut realisme analitis – terutama setelah menemukan cover album Beirut; The Gulag Orkestar (2006). Kepingan album ini di-coveri oleh karya fotografi Chilikov tanpa seizinnya. Menurut Zach Condon, (song-writer dan leader grup Beirut), gambar itu ditemukannya pada sebuah buku usang, robek, di sebuah perpustakaan di Leipzig, Jerman. Di sana tidak tertulis nama pemilik. Baru setahun kemudian diketahui setalah album ini meluas.

Salah satu karya Sergey Chilikov (sumber: Barefoot)

Rusia Era-Soviet | Salah satu karya Sergey Chilikov (sumber: Barefoot)

Chilikov lahir ditahun yang sama pada kematian Stalin 1953, ia mulai aktif sejak 1976 bersama komunitas yang dibangunnya: ‘The Fact’. Bersama kelompok itu ia mengisi dan menghadirkan beberapa pameran fotografi seperti “Analytical exhibitions of Photography”, ia juga terlibat dalam pameran retrospektif pada tahun 1988 di Moskow dengan tajuk “On the Kashirka”. Dan sekitar sepuluh tahun belakangan karya foto esai-nya bertajuk “Photo Provocations”, “The Countryside Glam”, “The Beach”, “The Gambling”, “The Philosophy of a Journey” dan beberapa photo lainnya dipamerkan dalam “Fashion and Style in Photography” dan “Photobiennale” di Moskow, serta “Les Rencontres d`Arles” di Francis pada tahun 2002.[9]

Alyssa Coppelman dalam tulisannya di slate.com,mengatakan, banyak ditemukan karya-karya Chilikov yang cukup asing dalam buku itu. Karya-karya yang barang kali belum diterbitkan karena gejolak politik pada masa itu.Terlebih kita tahu 1970-an juga disebut sebegai masa suram dunia foografi sebagai seni. Coppelman memulai tulisannya dengan pertanyaan, Who Knew Photos From Soviet-Era Russia Could Look So Happy?.

Dalam sebuah email note yang dikirimnnya pada Coppleman, Chilikov memberikan tanggapannya atas karya-karya yang baru muncul itu.

Just image ideological tunnel vision and baiting, which were typical in the 1970s in the USSR. Imagine the depression regarding self-actualization and domination of puppet standards, which were represented in only one way without any alternatives. Imagine the absence of any motives, which would somehow encourage one’s efforts. Imagine suppression of one’s aspirations on behalf of national security. It was all so tangled, and when it is considered now, one can hardly believe that it was still possible to creep out of that clay-like, retaining, shapeless mass. But we’ve managed it.”[10]

Sejak era sebelum 1970-an, Fotografi di Rusia, sulit untuk mendapat tempat sebagai bentuk seni yang ‘sah’, bahkan foto-foto klasik Soviet pada masa itu tidak disimpan dalam museum pameran. Agar hasil kerja mereka (para fotografer) dinikmati mereka harus memulainya dari pameran kecil-kecilan di komunitas mereka, kemudian saling bertukar (exchange) bersama komunitas lainnya lebih luas. Sampai akhirnya komunitas-komunitas inilah yang mendukung gaya fotografi demikian menjadi karya seni yang ‘sah’.

“Sah” dalam hal ini memiliki arti tersendiri. Pada era-stalin (1930-1953) kita bisa melihat ‘sah’ yang dimaksud ini merujuk pada apa yang disebut “teory bezkonfliknozt” seperti yang disebutkan sebelumnya. Karya-karya Chilikov seperti foto esai “Photo Provocations”, “The Countryside Glam”, “The Beach”, “The Gambling”, “The Philosophy of a Journey” serta seperti foto yang dipublis Schilt Publishing memang tidak terlihat jelas apa yang disebut masyarakat tanpa kelas seperti yang dipaparkan teory bezkofliknozt. Dari karya-karya Chilikov yang secara umum menghadirkan realitas dari perjalannanya di pedesaan. Rasa humor yang brilian itu menjadi lebih penting ketika ia hadir kontras dengan lingkungan yang menyedihkan. kita bisa merasakan sebuah kebebasan kecil pada masa mencekam di Rusia Era-Soviet. Humor seperti ini malah, seakan, membenarkan soviet dalam masa penuh konflik. Tidak ada kesan heroik, yang ada hanya “kecerian kecil yang terlihat dipaksakan” untuk menghadirkan “kecerian tanpa dipaksakan”. Ia memperlakukukan kameranya sebagai sebuah panggung, suatu dimensi yang asing, tempat semua orang bisa mengeskpresikan keinginan untuk ceria.

Rusia Era-Soviet | Salah satu karya Sergey Chilikov (sumber: Barefoot)

Rusia Era-Soviet | Salah satu karya Sergey Chilikov (sumber: Barefoot)

Rusia era-Soviet adalah sosok depresi atas aktualisasi diri. Seperti yang disebutkan sebelumnya – tentang revolusi kebudayaan oleh Stalin – massa hanya bisa menerima kebenaran tunggal, semua yang layak dikonsumsi hanyalah karya yang telah di ‘legitimasi’ (di-sah-kan). Perbedaan pandangan pada masa itu membuat sesorang bisa diburu atas nama keamanan nasional. Chilikov hadir sebagai pencetus atas kebosanan soviet dengan “hanya hal-hal tertentu saja yang bisa disebut seni”, ia hadir dengan alternatif yang mendorong motivasi orang-orang untuk berkarya secara egaliter. Ia memecah sebuah priode yang hanya mengenal seni itu: realisme sosialis – suasana heroik. Jika kita melihat kembali seluruh karyanya yang bisa terlacak itu, ada sebuah benang merah atas keterlibatannya dalam misi represif di era-soviet. Mengawasi kekangan sebuah rezim. Misi represif itu terus dilakukannya hingga 1991 soviet dibubarkan. Bersama komunitas FACT yang didirikannya, nama Chilikov kemudian mendapat perhatian dikalangan pecinta fotografi atas karya-karyanya mampu mengekspose hal – hal yang ‘kontras’ pada sebuah rezim yang dilaluinya. Kontras yang akhirnya mendorong penikmatnya menganalisis kemudian tergelitik sendiri menyadari elemen-elemen kontras itu.

 

Albert Rahman Putra, 2014


[1] Rubrik khusus “krisis ukraina” di media VOA-Indonesia (lihat: http://www.voaindonesia.com/section/crisis-in-ukraine/4671.html)

[2] Pasukan Pro-Rusia Almbil Alih Markas Besar Angkatan Laut di Kimeria, VOA-Indonesia.com diakses pada 24 maret 2014 http://www.voaindonesia.com/content/pasukan-pro-rusia-ambil-alih-markas-besar-angkatan-laut-di-krimea/1874459.html

[3] Demonstrasi Kesatuab Berlangsung di Kyv, VOA-Indonesia, 23 maret 2014

[4]Balkan folk musik, salah satu genre musik rakyat yang berangkat dari percampuran musik etnik Balkan pada priode kerajaan usmaniah. Mencakup Bosnia dan Herzegovina, Bulgaria, Yunani, Montenegro, Serbia, Rumania, Republik Makedonia, Albania, Turki, beberapa negara Yugoslavia atau Uni Negara Serbia dan Montenegro.

[5] Beirut, Wikipedia Bahasa Inggris (http://en.wikipedia.org/wiki/Beirut_(band)

[6] Gulag, Wikipedia Versi Bahasa Ingris (dikases pada 24 Maret 2014)

[7]Realisme sosialis oleh Goenawan Muhamad di www.goenawanmohamad.com

[8] Videobase, Forum Lenteng 2009

[9] Sergey Chilikov, Database Artis Artfinding.com (http://www.artfinding.com/images/biographie/15234/?LANG=an)

[10]Sergey Chilikov A Photographer’s Work From During Soviet-Era Slate.com

Picture Resources: Barefoot (karya Sergey Chilikov lainnya)

One comment on “Gulag

  1. Ping-balik: Gulag | Albert Rahman Putra

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: