BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Hermaini

Di suatu siang di ISI Padangpanjang (kira-kira diawal 2010), saya teringat di sebuah pandopo beberapa orang tengah asik mendengar seorang ibu yang sedang bernyanyi. Ibu ini berpenamilan sederhana dengan daster yang sudah muai memudar, jilbab sorong putih dengan eberapa hiasan percak kream, dan sandal jepitnya yang beda warna. Menurut seorang teman dia adalah warga Padangpanjang yang terobsesi menjadi penyanyi seperti halnya Syahrini. Siang itu ia menyanyikan dua repoertoar lagu: Bareh Solok dan Bengawan Solo. Ia menyanyikannya dengan cukup eksploratif dan dekonstruktif. Namun entah kenapa semuanya berekspresi seakan-akan pertunjukan yang tengah berlangsung adalah hal konyol.

Sebenarnya ibuk ini telah beberapa kali saya lihat dengan pakaian yang sama bernyanyi dikampus ini. lagu yang dibawakan selalu sama, walau ia meminta request-an dari pendengar tapi tetap saja Bareh Solok dan Bengawa Solo yang dimainkannya. Sebelum memulai nyanyiannya biasanya ia sedikit memberi pembukaan.

“Lai buliah ibuk nyanyi? Ndag bayia ndak jo baa do. Limo ratuih se jadi untuak pambali es.”

(bolehkah ibu bernyanyi? tidak dibayar tidak apa-apa. Lima Ratus saja juga cukup untuk membeli Es)

“tadi ibuk lah nyayi dimuko dosen-dosen, suaro ibuk rancak keceknyo. Lagu apo nio?”

(tadi ibuk sudah nyanyi di hadapan dosen-dosen, suara ibu bagus kata mereka. Mau lagu apa?)

“lagu Bareh Solok se lah dih, iko alah ibuk improvisasi stek, co lah danga”

(Lagu “Bareh Solok” saja ya, ini sudah di improvisasi sedikit, coba dengar)

Semua orang yang tengah duduk di pandopo, saya kira juga sudah sering mendengar ibuk ini bernanyi. Tapi entah mengapa mereka selalu mempersilahkan ibu ini bernyanyi, entah dengan alasan ini memperolok, entah karena memang ibu ini terkenal dengan gaya nyanyiannya yang khas. Sempat beberapa mahasiswa mengabadikannya dan mengapload ke media arsip video raksasa yang terkenal itu. Kemudian ibu itu bernyanyi sambil menepuk tanggannya untuk pengatur tempo.

“bareh solok, bareh tanamo. Ohoook ohokkk ohok ohok ooohoook”

“diipagatok urang pario,Ohoook ohokkk ohok ohok ooohoook”

“bunyi kulek cando badendang. Ohoook ohokkk ohok ohok ooohoook”

“dek ditingkah ondeh mak, minto lalu. Ohoook ohokkk ohok ohok ooohoook”

 

Sebenarnya yang paling ditunggu-tunggu pendengar adalah silabel tambahannya setiap akhir kalimat lagu: Ohoook ohokkk ohok ohok ooohoook . ia selalu menambahkan bagian itu dengan tepuk tangan berhenti. Semua penonton akan sontak ketawa sebesar yang ia bisa untuk bagian tambahan itu. Bahkan siang itu ada yang berkomentar sambil tertawa sejadi-jadinya seakan-akan tengah nonton stand-up-comedy-musikal : “Asli konyol” katanya.Beberapa orang mungkin akan marah ketika komentar seperti itu di lontarkan, bagaimana mugkin para calon seniman yang hidup di tengah-tengah para seniman ini tidak menghargai setiap karya seni.

Ada beberapa hal yang mungkin membuat calon-calon seniman ini merasa apa yang tengah mereka saksikan adalah hal yang konyol. Pertama karena mereka akdemisi seni, dan saya tahu, di sini (kampus ISI Padangpanjang) mereka seakan-akan telah diajarkan sebuah struktur baku (konstruksi) penggarapan sebuah karya seni. Diantaranya mereka diperkenalkan dengan ilmu solfegio, disini mereka belajar untuk menempatkan nada pada “tempat”nya. Entah siapa yang menetukan “tempat” tersebut, entah kenapa kita menyepakati “tempat”itu. Dan yang tidak pada tempatnya kita sebut fals. Beruntung ibu yang tengah menyanyi ini konstan pada nada dasar yang dibangunnya sendiri. kemudian, calon seniman ini dikenalkan dengan kata Tempo. Di lingkungan ini kata tempo berlaku semacam ketukan konstan yang memberikan batasan kecepatan agar tetap stabil, batasan itu bisa hadir melalui metronum, atau dari hati manusia itu sendiri. Nah, pada bagian ini “mungkin” ibu tadi terdapat sedikit masalah. Oleh karena itu para calon seniman ini malah menertawakannya. Sengaja saya mengutip kata “mungkin” pada kalimat saya sebelumnya. Saya ingin menegaskan bahwa kesalahan yang dirasakan itu relative.

Lagu Bareh Solok yang dimainkan oleh ibu tersebut sebenarnya sangat populer sebagai konsusmsi masyarakat di konteks lokal kampus ini berdiri, Minangkabau. Sama halnya, setenar lagu Bengawan Solo di tengah masyarakat Jawa. Intinya lagu Bareh Solok yang dimainkannya begitu familiar di telinga calon seniman ini, jadi improvisasi akan sangat fatal jika tidak diberitakan (semacam sinopsis yang dibacakan MC)terlebih dahulu. Nah misalnya pada lagu tesebut dimainkan dengan tempo 120 dengan birama 4/8. Kemudian tiba-tiba ia berganti dengan birama 4/7 atau dengan tempo lebih pelan. Pergantian biasanya terjadi setelah ibu itu melantunkan silabel “Ohoook ohokkk ohok ohok ooohoook “ itu. Biasanya ia masuk tidak pada masa yang tepat, kadang di down beat kadang di upbeat (singkop). Nah, menanggapi perubahan “yang tidak lazim” itu spontan seorang teman sambil tertawa terbahak-bahak, menepuk-nepuk tangannya membantu ibu tersebut kembali pada tempo semula. Namun ibu itu enggan mengikutinya. Mungkin ia tengah berfikir, it is my style atau yang sebenarnya tengah dia lakukan adalah upaya dekonstruksi sebagai seorang avant-garde. Bagaimana mungkin saya akan percaya seorang ibu yang dikatakan kanai sakaetek (melampaui waras) ini sebagai seorang pembuat perubahan. Siapa pula yang akan percaya dia mampu mengkritik kosntruksi yang telah lama terjadi dalam dunia musik ini.

Dekonstruksi yang saya maksud adalah ketika kita melayang bebas diantara konsruksi-konstruki yang terkesan mapan, mutlak, dan tidak bisa dirubah. Konsep dekonstruksi lahir sebagai wacana kritis menolak kemapanan sebagai hal yang mutlak. Seperti yang dilakukan ibu ini, barangkali.

Mungkin kejadian serupa akan di tanggapi dengan respon berbeda jika yang tengah perform adalah seorang seniman kontemporer besar; sebut saja beberapa nama sebagai contoh; Asep Saipul Aris, Hajizar, Elizar Koto, Supanggah, atau pendatang baru seperti Agung Hero atau Agung perdana yang beberapa waktu lalu behasil melakukan upaya dekonstruksi dalam iklim bermusik di ranah panggung bergengsi sumatera ini dengan karya ujian akhirnya. Di tangan mereka, kentut pun akan dianggap sebagai representasi musik yang luar biasa.

Misalnya Asep Saipul Haris, dengan musiknya ia membuat hal konyol menjadi berharga, atau Elizar Koto dengan musiknya ia bisa membuat “sesuatu yang tidak enak didengar” menjadi fenomena musikal luar biasa. Tarohlah, beberapa orang juga menggap mereka juga kanai saketek atau beberapa orang menyebutnya seniman gila, karena mereka selalu melahirkan karya-karya “gila” bagi masyarakat terstruktur atau “liar” dalam artian membuat seni itu sebagai sesuatu object dengar yang tanpa batas (infinite). Mereka melepaskan diri dari keteraturan tempo, menciptakan harmoni sendiri, atau menyusun bunyi bising menjadi sebuah musik yang rugi jika tidak kita tonton.

Kembali pada ibu yang menyanyiakn Bareh Solok tadi, sayang sekali setiap ditanyakan namanya ia menjawabnya dengan nama yang berbeda-beda. Untuk sementara kita sebut saja namanya Hermaini. Nah, jika ibu Hermaini menyanyikan Bareh Solok, dengan gayanya yang khas tersebut di pentas Taman Ismail Marzuki, dengan balutan kebaya, dalam tema dadaisme atau surealisme , saya menjamin sebagian besar pendengarnya – bukanya tertawa konyol – malah mengerutkan dahinya.

Tapi, Siapalah Hermaini, di pentas kecil pun dia tidak diperbolehkan naik. Kata tempo, solefegio, matriks, kontrapung, arpgeio, cresendo, dadaisme begitu asing di telingnya bagaimana mungkin kita akan menanggapnya sebagi seorang avand-garde? Kita mungkin juga bisa menyebut Hermaini sebagai “seniman gila” seperti halnya Asep Saipul Haris, Elizar Koto, Supanggah atau nama-nama lainnya seperti yang disebutkan diatas, namun tentu dengan kesan dan konteks yang berbeda. Namun bagaimana pun kondisi kesehatanya fisik ataupun psikis-nya, di mulutnya yang kering – yang tak pernah menyerah melantunkan gaya garapan yang sama –  itu telah ikut mewarnai belantika musik di bumi ini.

 

*) Albert Rahman Putra

Padangpanjang, 2013

_________________________

salah satu video Hermaini yang di Unggah pada 2011

3 comments on “Hermaini

  1. A-think Poetra
    29 Januari 2014

    Wah, tulisannya bagus Bert…
    jempol dua dah…

  2. rksati05
    6 Maret 2014

    sangat bagus dan rancak sangaik..kalau basuo ibuk ko jo ambo,ambo agiah mo ibu

  3. Ping-balik: Hermaini | Albert Rahman Putra

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: