BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Talempong Sambilu (Bagian III)

Terakhir, Pada Talempong Sambilu Bagian II (dua) kita sempat menyinggung talempong Sambilu yang ternyata juga terdapat di Koto Kaciak, Limapuluh Kota, (Payakumbuh). Sedangkan Umar Malin Parmato (4/10/2012) mengatakan bahwa Talempong Sambilu Silungkang ini adalah satu – satunya benar atau tidaknya kita lupakan kesampingkan sejenak.

____

Kesenian talempong sambilu , sepertinya memang sangat penting dilestarikan. Selain nadanya yang jernih dapat membantu pendengar menenangkan fikiran. Seperti yang dikatan ibu Usman (Istri Bapak Usman) bahwa bapak usman seringkali memainkannya ditengah malam atau dini hari ketika dia lagi suntuk dan lain-sebagainya. Ibu Usman mengaku tidak terganggu malah dia senang, karena permainan bapak usman yang halus membuat dirinya semakin nyaman.

Lagu  (reportoar) yang biasa dimainkan oleh bapak Usman banyak sekali, mulai dari lagu tradisional, populer, dan apa saja yang mengalir dari otaknya.

Pada dasaranya ada dua lagu khusus yang selalu dimankan dengan alat musik ini, yang pertama adalah lagu mandaki ngarai basurek, kemudian malereng ngarai basurek. Lagu ini tidak pernah dikenal siapa yang menciptakannya. Menurut bapak Usman dua lagu tersebutlah yang selalu dimainkan oleh pendahulu kesenian ini. Lagu ini pastinya bercerita tentang aktivitas keseharian masyarakat setempat. Mandaki berarti mendaki, sedangkan malereng secara  luas dapat berarti mendaki ataupun menurun. Namun malereng bagi masyarakat Sungai Cocang adalah kegiatan menurun.  Dan Ngarai Basurek adalah nama pebukitan daerah tersebut.

Selain dua lagu khas tersebut, melalui talempong sambilu juga biasa dimainkan lagu yang lazim dimainkan oleh beberapa instrumen lain. Seperti lagu yang biasa dimankan pada alat musik talempong pacik, sarunai, dan lain sebaginya, menurutnya hal itu hanyalah sebuah pengembangan, termasuk mengunakannya sebagai musik pengiring tarian.

Sebenarnya ada hal lain yang cukup menarik dari lagu-lagu kemudian. Seperti cerita bapak Usman. Setelah bosan memainkan dua lagu khas tersebut, ia mencoba untuk mengmbangkannya dengan lagu-lagu lain. Seperti pada lagu-lagu yang dimainkan dengan talempong pacik. Namun tidak ada yang mau mengajarkannya. Akhirnya ia mulai melakukannya sendiri.

Seperti yang saya jelaskan sebelumnya (Bagian I) bahwa kondisi geografis tempat pak Usman juga sangat berpengaruh dengan eksistensi kesenian ini. Dari puncak tersebut, terdengar jelas orang –orang yang memainkan talempong pacik (terbuat dari perunggu). Kemudian ditirukan oleh pak Usman pada talempong sambilu. Begitu berulang-ulang kali, hingga akhirnya ia mahir.

Setelah mempelajari beberapa lagu tersebut barulah bapak Usman membawa kesenian ini ke pangung yang lebih luas. Artinya pak usman sudah bisa menyajikan beberapa lagu yang mungkin akan menjadi perminataan penonton.

(bersambung…)

_____

Talempong Sambilu

Oleh: Albert Rahman Putra

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

On Twitter

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: