BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Talempong Sambilu (Bagian II)

(Sambungan dari Talempong Sambilu Bagian I   oleh Albert Rahman Putra)

Bapak Usman ketika saya temui sudah berusia kurang lebih 84 tahun.  Ia sudah mengenal talempong sambilu ini sejak kecil. Alat musik ini dulu serigkali dimainkan oleh ibunya disela-sela waktu. Dari dulu hingga sekarang kesenian itu tetap dimainkan sebagai hiburan. Artinya bukan mewakili ritual atau upacara tertentu.

Kesenian ini biasa dimainkan dalam forum-forum kecil ketika masyarakat beristirahat dan berccanda-canda ketika selesai bekerja.

Oleh bapak usman dulunya kesenian ini tidak terlalu diminatinya. Namun selain talempong sambilu ia menyukai kesenian-kesenian khas Minangkabau lainnya.

Sejak ibunya meninggal, serta “suasana panas” yang terjadi di nusantara pada tahun 40-50 cukup membuat kesenian ini terlupakan dari komunitasnya.

Apa lagi setelah itu bapak Usman juga terlibat dalam pemerintahan, kemudian menjadi kepala jorong (kades), hal ini cukup membuat masyarakat setempat amnesia dengan keindahan bunyi yang berasal dari telempong sambilu ini.

Setalah pensiun dari jabatan kepala jorong, bapak usman kembali menggiati kesenian yang dulu pernah ditinggalkannya tersebut, hingga sekarang.

Dengan kesenian tersebut ia telah mengunjungi bebagai daerah baik itu didalam negeri maupun luar negeri. Seperti  Jakarta, Medan, Singapura dan lain-lain. Bahkan Ia juga mendapat penghargaan dari Perdana menteri Malaysia pada tahun2005 . Selain ia yang dibawa keluar, ia juga didatangi oleh beberapa orang seniman, budayawan baik itu dari dalam ataupun luar kota.

Seperti keterangan bapak Usman, ia membuat 20 talempong sambilu yang dipesan oleh seniman asal Australia untuk dibawa kenegeri asal mereka. Selain itu ada pula beberapa seniman dari Padangpanjang, Yogyakarta, Jakarta, dan Bali yang memesan alat musik tersebut.

Namun yang datang terlambat adalah dinas pariwisata Kota Sawahlunto itu sendiri. Bukan terlambat mengenal,tapi terlambat untuk mempelajari kesenian ini. Pada tahun 2010 untuk pertama kali kesenian ini berada di panggung besar kota Sawahlunto. Dan ini juga pertama kali saya mengenal talempong sambilu  ini.

Kemudian pada tahun 2012 ini juga ditampikan di pergelaran Pekan budaya Sumatera Barat di Kab. Solok. Hal ini adalah petanda dan cikal bakal kembalinya eksistensi talempong sambilu. Seperti diskusi yang saya lakukan beberapa waktu lalu, bapak Usman juga talah menyetujui undangan dari  sekolah SMA N 1 Kota Sawahlunto yang meminta untuk mengajarkan kembali  talempong sambilu pada siswa mereka.

“Rencana saya akan mengajarkan siswa tersebut bagaimana cara membuat talempong sambilu ini, kemudian kalau masih ada jadwal pertemuan, saya akan mengajarkan beberapa lagu”

Cukup menarik sekali, dari warga setempat dan keterangan bapak usman sendiri bahwa dirinya adalah satu-satunya seniman yang mahir memainkan dan yang bisa membuat alat musik tersebut.

“Sebenarnya ada tiga orang yang masih memainkan kesenian ini, saya, dan dua orang adik saya. Satu diantanya sudah meninggal, tingga saya dan adik saya. Itupun adik saya sudah jarang sekali memainkannya, pasalnnya istri dia tidak mendukung dirinya sebagi seniman, bisa dikatakan saya lah satu-satunya yang tersisa.”

Dulu bapak Usman juga sempat mengajarkan anak perempuannya, namun sekarang juga sudah jarang dimainkannya. Kemudian belakangan juga sudah diajarkan kepada cucunya dan telah melakukan penampilan kolaborasi di panggung Pekan Budaya Sumatera Barat 2012 di Solok.

___

Belakangan akademisi seni dari Padangpanjang mengaku juga pernah melihat alat musik yang sama di daerah koto kaciak, Kab. Lima  Puluh Kota (Payakumbuh), Sumatera Barat.

benarkah demikian?

(Bersambung…)

Ke Bagian I  >> klik disini

_____

2 comments on “Talempong Sambilu (Bagian II)

  1. Ping-balik: Talempong Sambilu (Bagian I) « BUJANGKATAPEL

  2. Ping-balik: Talempong Sambilu (Bagian III) « BUJANGKATAPEL

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: