BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Bioskop di Kota Solok

 

Meski Tak Berfungsi Bioskop Karia Tetap Bertahan

oleh: Albert Rahman Putra

Pendiri dan aktif di Komunitas Gubuak Kopi Solok
 

inioke.com – Perkembangan teknologi menonton film, membuat bioskop kurang popular di masyarakat. Sehingga banyak bioskop yang sebelumnya ramai dikunjungi ditutup atau diruntuhkan alias tidak berfungsi lagi. Kecuali bioskop dibawah lisensi 21Cineplex atau Blitz Megaplex, dan yang bertahan menyajikan film-film terbaru. Di antara bioskop yang gedungnya masih berdiri namun tidak berfungsi, terdapatlah Bioskop Karia di Kota Solok.

Di permulaan April silam, saya bersama kawan – kawan di Komunitas Gubuak Kopi dan juga bersama kawan-kawan dari komunitas Sarueh Padangpanjang mengunjungi salah satu bioskop di Kota Solok. Informasi yang kami dapatkan di Solok dulu hanya terdapat dua Bioskop, yaitu bioskop Karia dan bioskop Wirayudha. Bioskop Wirayudha telah mati total karena tidak ada lagi peminat bioskop. Hingga saat ini satu-satunya bioskop yang bertahan adalah bioskop Karia yang berada masih di kawansan pasar raya Kota Solok. Walaupun dapat dikatakan tidak aktif lagi namun bioskop karia tersebut lebih memilih untuk tidak diruntuhkan seperti yang terjadi pada beberapa bioskop lainnya. Atau mungkin belum.

Koleksi Poster Bioskop Karia Solok (foto: Yudhi)

Malam itu kami mengunjugi pengurus bioskop Karia Solok tersebut. Bapak itu sudah berusia 70 tahunan, keturunan Cina dan akrab dipanggil Kokoh. Kokoh mengaku kurang lebih sudah empat puluh tahun menjabat sebagai pengurus bioskop milik bapak Wirako tersebut. Menurut Kokoh bioskop sudah mulai ditinggalkan terutama sejak munculnya teknologi baru seperti VCD, DVD, dan lain-lain. Bahkan, saat ini setiap orang juga dapat mengakses film-film terbaru melalui media internet secara gratis.

Sebenarnya Kokoh sudah mulai menyerah, pasalnya sudah tidak ada lagi yang berminat mengunjungi bioskop. Bahkan Kokoh mengatakan, film akan diputarkan walau hanya ada lima orang penonton. Namun sayangnya lima orang penonton pun tak kunjung datang. Harga tiket juga murah, hanya Rp7.500,- (tujuh ribu lima ratus rupiah) dan itu pun tidak ada pengaruhnya.

Rekan saya Yudhi beranggapan mungkin hal ini juga dipengaruhi oleh pilihan film yang kurang diminati masyarakat secara umum. Menanggapi pendapat Yudhi saya jadi teringat ketika diskusi bersama bersama Komunitas Sarueh pada peringatan film nasional di Bioskop Eri, Bukitinggi 30 Maret 2012.

Kursi bioskop yang sudah berdebu. (foto: Yudhi)

Waktu itu film yang diputarkan adalah film “Pria Simpanan” karya Walmer Sitohang yang diproduksi pada tahun 1997. Beberapa pengunjung mengatakan film tersebut adalah film khusus dewasa. Harriyaldi Kurniawan dari komunitas Sarueh, mengatakan film tersebut sengaja diputarkan karena faktanya hingga masa 90an memang film seperti itulah yang dapat di konsusmsi para pengunjung bisokop di daerah Sumatera atau tepatnya Sumatera Barat. Sedangkan di Jakarta pada masa itu orang-orang sudah mulai mengkonsumsi film-film cerdas karya sutradara ternama luar negeri. Dan itu mungkin juga karena harga film-film baru yang begitu mahal.

Kondisi di ruangan projectionist Bioskop Karia Solok. (foto: Yudhi)

Kondisi di ruangan projectionist Bioskop Karia Solok. (foto: Yudhi)

Yusril Katil, pengamat perfilman Sumatera Barat yang juga telah menghasilkan banyak karya teater maupun film, menyatakan hal yang sama. Menurutnya, era globalisasi yang kita rasakan saat ini mestinya dapat membangkitakan gairah kita, warga Sumatera yang terbiasa menjadi “penonton” untuk menyatakan perang dengan dengan karya – karya yang tidak mendidik. Mungkin salah satu caranya yaitu dengan menjadi pembuat film. Faktanya saat ini kita sudah bisa mendapatkan berbagai pengatahuan, teknologi, ataupun fasilitas tanpa harus menunggu keputusan dari orang-orang yang berada di Jakarta sana.

Intinya kita yang biasa sebagai penonton harus bangkit menjadi creator atau pembuat film. Jika hal ini terwujud tentunya kita dapat membangkitkan kembali gairah bioskop Sumatera Barat. Bioskop – bioskop yang bertahan adalah sasaran efektif untuk media pemutaran dan diskusi terkait film-film karya lokal. Dengan demikian insyallah akan terwujud fungsi edukataif dari bioskop. (ARP/Komunitas Gubuak Kopi)

*Artikel ini sebelumnya dipublikasi di : inioke.com

 

 

 

 

 

One comment on “Bioskop di Kota Solok

  1. antondewantoro
    4 November 2012

    Harga tiket juga murah, hanya Rp7.500,- (tujuh ribu lima ratus rupiah) dan itu pun tidak ada pengaruhnya –> Padahal di IMAX gandaria city Rp 100.000 pun pada antri. Sungguh sebuah ironi. Di kota asal saya Yogyakarta banyak bioskop kecil-kecil gulung tikar terutama semenjak film lokal yang horor-porno merebak. Ada satu bioskop namanya Permata bisa tetap lestari, caranya dia menggandeng pembuat film independen untuk bisa putar film di situ. Semoga bioskop-bioskop di Solok masih bisa bertahan dan menemukan format baru. Nonton di bioskop itu tetap lebih asyik ketimbang nonton DVD.

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 28 Agustus 2012 by in Arsip Blog and tagged , , , , , .

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: