BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Alek Kapalo Banda

Ucapan Selamat Datang pada ALEK KAPALO BANDA Jorong Pincuran VII

Ucapan Selamat Datang pada ALEK KAPALO BANDA Jorong Pincuran VII

Ritual agama dan seremonial adat.

Masuknya ajaran Islam di Minangkabau sekaligus menandai revolusi budaya besar-besaran, khususnya di Minangkabau. Agama terbukti mendapat porsi penting dalam kehidupan masyarakat. Agama telah merekonstruksi tata nilai adat yang telah lebih dahulu hadir kehidupan masyarakat Minangkabau. Doktrin itu diperkuat dengan lahirnya falasafah adat “adaik basandi syarak, syarak basandi kitabullah” (adapt bersendikan syarak, syarak bersendi kitabullah). Artinya agama hadir sebagai landasan Adat. setiap prilaku adat yang bertentangan dengan ajaran agama harus dihapuskan (Hajizar; 2007). Kesenian masyarakat yang dulunya bersifat duniawi, untuk hiburan, dan upacara-upacara adat dapat dikatakan punah atau mengalami perubahan fungsi.

Setelah mengenal agama, semua kegiatan adat tidak lagi sekedar memenuhi kepuasan ‘duniawi’ melainkan harus diorentasikan untuk mencapai kepuasan religious. Kepuasan Religius dalam konteks ini merujuk pada apa yang diyakini masyarakat sebagai bekal ‘dunia akhirat’. Sehingga lahirlah banyak kesenian Islami seperti dikia, indang, barzanji, salawaik dulang, dll.

Di Minangkabau, agak sedikit sulit untuk menentukan mana yang sebenarnya kegiatan agama dan mana kegiatan adat. Semuanya sudah terangkum dalam satu pola kebudayaan baru sebagai hasil rekonstruksi adat oleh agama. Salah satu aktivitas masyarakat yang menarik untuk disimak adalah Alek Kapalo Banda. Seremoni ini, beruntung dapat saya saksikan langsung beberapa waktu lalu (26/05/2012), di Jorong Pincuran VII (baca: pincuran Tujuah) Kenagarian Gunuang Rajo, Kecamatan Batipuah, Kabupaten Tanah Datar. Penduduk desa ini mayoritas adalah masyarakat agraris. Tanahnya yang subur, menginspirasi masyarakat untuk memanfaatkan kesuburan tersebut dengan segala kemungkinan. Bertani kopi misalnya, ini adalah salah satu alternatif lain masyarakat Nagari Gunuang Rajo, kususnya Pincuran VII dalam memaksimalkan potensi alam selain menggarap sawah.

Alek Kapalo Banda, menurut seorang tokoh masyarakat setempat, Rajo Sinaro Kayo, adalah salah satu bentuk rasa syukur masyarakat Pincuran Tujuah atas sumber mata air yang tidak pernah habis, dan selalu mengairi pertanian-perkebunan masyarakat setempat. Dengan meng-atas-nama-kan nazar, alek kenduri tersebut selalu diadakan setiap tahun dengan ditandai oleh musim panen kopi. Alek (Pesta) ini pada dasaranya adalah kegiatan religius dan dihadirkan dalam bentuk pesta adat.

Pagi (26/05) itu setelah menyembelih satu ekor sapi, daging yang masih segar tersebut langsung dibawa ke dapur khusus, yang dibuat satu hari sebelum acara. Disanalah beberapa ibu-ibu dari masyarakat Nagari Gunuang Rajo mempersiapkan hidangan untuk jamuan yang akan dihadiri oleh tokoh-tokoh adat. Daging tersebut di olah menjadi masakan khas masyarakat Pincuran VII. Masakan tersebut terlihat semacam gulai, namun tidak mengunakan santan. “Gulai Sampadeh Dagiang” begitu salah satu juru masak menyebutnya. Dan Gulai Sampadeh Dagiang adalah satu-satunya menu yang dihidangkan untuk alek adat tersebut.

Menurut ibu Ani, salah seorang juru masak di alek tersebut, sebenarnya ketentuan khusus persoalan menu jamauan. Tidak ada kesakralan. Menghadirkan satu menu saja hanyalah untuk menghemat biaya dan keseragaman. Dan sepertinya hal ini juga merupakan peng-maksimalan dari penyembelihan sapi tadi.  Selain hidangan untuk teman nasi, setiap keluarga nagari gunuang rajo, wajib membawa anjungan (tempat pembawa makan dengan meletakannya dikepala) yang berisikan makanan kecil khas setempat.

Suasana ketika masak bersama pada Alek Kapalo Banda

Suasana ketika masak bersama pada Alek Kapalo Banda

Suasana ketika masak bersama pada Alek Kapalo Banda

Suasana ketika masak bersama pada Alek Kapalo Banda

Sementara itu para ibu-ibu lain mempersiapkan hidangan kepiring di tempat utama pesta tersebut dilakasanakan( waktu itu yang gunakan adalah salah satu ruang kelas SD Pincuran VII ). Disana juga sedang belangsung musyawarah dan balas-balas pantun oleh para panguhulu dan tokoh-tokoh adat setempat. Semua yang hadir mengenakan pakaian batik, kecuali para petinggi adat yang waktu itu menggunakan baju kebesaran adat. Setelah berbalas pantun, acara dilanjutkan dengan makan bersama. Untuk makan bersama pun juga memiliki etika khusus yang harus dihormati.

Sesi makan bersama didahuli dengan pasambahan (pengantar) oleh niniak mamak. Kemudian barulah hidangan bisa dimakan, namun tetap ada etika khusus yang mengaturnya. Makan bersama ini dibagi lagi menjadi tiga bagian: pertama adalah makan bersama khusus untuk para petinggi atau tokoh-tokoh adat dan para undangan. Kedua, adalah makan bersama khusus untuk para pemuda. Pengertian pemuda disini selain orang yang masih dalam usia muda dipersempit lagi, yaitu orang yang belum memiliki gelar secara adat. Kemudian pada tahapan ketiga adalah makan bersama kuhsus ibu-ibu, walau pada waktu itu sepertinya beberapa ibu-ibu lebih memilih membungkus hidangan tersebut dan memakannya di rumah.

Dari gambaran tersebut dapat dilihat bagaimana penerapan praktik agama dalam adat di masayarakat pincuran VII. Kegiatan agama dan kegiatan Adat nyaris tidak memiliki sekat, keduanya membaur dan tidak bisa dipisahkan. Ada banyak bentuk syukuran dalam ajaran agama Islam. Dan Syukuran pun juga bisa dilakukan sendiri-sendiri. Disinilah salah satunya kita bisa melihat praktik dari falsafa Minangkabau “adaik basandi syarak, syarak basandi kitbullah”.

 

Peranan Salawaik Dulang

Grup Salawaik dulang (Langkisau) pada acaara Alek Kapalo Banda

Grup Salawaik dulang (Langkisau) pada acara Alek Kapalo Banda

Dengan selesainya makan-makan, maka kenduri secara adat telah selesai. Namun sepertinya pesta belum lengkap tanpa hiburan. Hiburan yang disajikan adalah kesenian salawaik dulang, salah satu kesenian Islami yang sudah dicap sebagai kesenian rakyat (folklore) Minangkabau, termasuk bagimasyarakat Pincuran Tujuah. Salawaik dulang adalah kesenian vokal yang melantunkan syair berisikan salawat, yaitu, puji-pujian terhadap nabi Muahammad SAW dan menggunakan dulang sebagai instrument pengiringnya (Hajizar: 2007). Selain menghibur, kesenian Salawaik dulang juga diyakini sebagai kegiatan sunah (jika dikerjaan mendapatkan pahala) karena berisikan pelajaran mengenai sifat-sifat nabi, anjuran nabi, yang dijadikan pedoman hidup umat Islam.

Fungsi salawaik dulang sendiri pada alek ini adalah semata-mata sebagai hiburan, bukan bagian inti yang mempengaruhi alek tersebut dan fungsi hiburan dalam konteks ini juga merupakan kontribusi untuk pembangunan nagari.

Jika diperhatikan proses dari awalnya sampai akhir, secara umum mengasilkan kepuasan spiritual, tetapi juga proses penghabisan dana. Kurang efektif rasanya kalau alek tidak memliki kontribusi secara fisik atau kontribusi yang begitu tampak bagi nagari.

Kenapa memilih salawaik dulang?

Bapak Rajo Sinaro Kayo menjelaskan selain pertunjukan salawaik dulang biayanya tidak telalu mahal dan ternyata salawaik dulang juga memungkinkan untuk pemasukan dana. Dana yang nantinya dikelola oleh surau untuk pembangunan desa. Kesenian salawaik dulang  dimainkan oleh dua gurup seniman, satu grup terdiri dari dua orang. Grup tersebut bermain secara bergantian. Seperti yang hadir pada malam itu adalah grup salawaik dulang Arjuna Minang dan Langkisau. Disela-sela pergantian grup akan muncul tukang oyak, salah seorang ditunjuk panitia untuk berorasi mengajak masyarakat menyisihkan dana. Dana tersebut nantinya akan dijadikan biaya untuk pertunjukan salawaik dulang itu sendiri. Kemudian, seperti biasanya, menurut Rajo Sinaro kayo, dana dari hiburan tersebut selalu bersisa.  Dan sisa dari honorium seniman salawaik dulang tersebut dijadikan sebagai kontribusi untuk pembangunan masjid.

Pemungutan dana tersebut dianggap sebagai zakat. Seperti yang biasa dilakukan pada bulan Ramahdan, dan pada hari-hari besar agama Islam lainnya. Hal ini saya kira juga salah satu jawaban kenapa hiburan dilaksanakan di mesjid. Konsep yang sama juga biasa ditemukan pada kesenian bagurau atau kesenian lainnya, yang mana agar hiburan terus berlanjut, penonton dipancing menyisihkan sedikit uang. Kalau kesenian bagurau penonton menyumbangkan dana untuk menyampaikan pesan kepada salah seorang, melaui tukang oyak (moderator) pesan tersebut di teriakan, kemudian didendangkan oleh seniman bagurau. Sedangkan pada salawaik dulang, uang yang di berikan penonton bukanlah media untuk penyampaian pesan, melainkan untuk menyampaikan doa. Biasanya moderator akan meneriakan jumlah uang dan titipan doa dari penyumbang. Misalnya; “seratus ribu dari bapak Ali, titip doa untuk kedua orang tua yang telah meninggal”.

Seperti yang dikatakan bapak Rajo Sinaro Kayo, setiap masayarakat sangat antusias sekali dalam menyumbangkan dana. Bahkan satu orang pun menyumbang berkali-kali. Hal itu adalah salah satu bukti yang mencerminkan tingginya apresiasi masyarakat terhadap kesenian Islami. Kemudian menunjukan betapa besarnya keinginan masyarakat untuk merawat mesjidnya. Namun mungkin beberapa orang tentu penasaran, atau muncul pertanyaan “apa sih keuntungan bagi mereka yang menyumbang?”, toh doa, juga bisa dilakukan sendiri setelah habis shalat. Atau mungkin akan muncul prasangka bahwa itu hanyalah ajang untuk pamer kekayaan.

Prasangka itu barang kali keliru, karena banyak juga diantara mereka yang menyumbang enggan disebutkan namanya. Sebagian lebih memilih kata ganti “Hamba Allah”. Salah satu keuntungan yang didapatkan oleh penonton pasatinya adalah kepuasan, kepuasan batin atas hiburan atau doa itu sendiri. Namun uang yang diterima tetaplah harus diteriakan dan dilambaikan. Biasanya moderator akan mengatakan : “dari Hamba Allah, seratus ribu untuk kedua orang tua”.

Kenapa harus diteriakan? Alasan yang paling mendasar tentu adalah transparansi. Walaupun kecil kemungkinan masyarakat curiga dengan penyelewengan dana, namun hal tersebut tetaplah harus diantisipasi. Kemudian, tentu perlunya membangun kekuatan kolektif untuk doa tersebut. Satu doa dari orang yang menyumbang, ketika diteriakan oleh moderator yang juga berperan sebagai imam pembaca doa, akan di-amin-kan oleh seluruh sidang salawat yang hadir. Doa satu orang juga merupakan doa seluruh penonton yang antusias dengan pertunjukan salawaik dulang tersebut. (ARP)

_____________________________________________________________________

 Albert Rahman Putra

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: