BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Untuk Sebuah Laga-Laga

Cerita ketika Alek Nagari. Pemerintah kurang perhatian, Wendi bicara.

oleh: Wendi Nanda Pratama

Kabupaten Padang Pariaman, tepatnya di korong Bayua, kenegarian Pauh Kambar,  Kecamatan Nan Sabaris, beberapa waktu lalu (14/05) sempat  di adakan alek nagari. Banyak kesenian tradisi di tampilkan disini, seperti : ulu ambek, gandang tambua, dan indang.  Acara ini di adakan karena adanya kesepkatan musyawarah antara panghulu, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, masyarakat dan perangkat kecamatan desa lainnya. Alek nagari ini bukan alek Korong Bayua semata, melainkan alek kecamatan Nan Sabaris, tapi di korong Bayua lah tempat diselenggarakan acara ini.

Alek nagari ini bukan merupakan acara alek nagari tahunan, waktu penyelenggaraan nya tidak menentu, terakhir acara ini diadakan pada tahun 2006 kemaren. Acara pembuakan biasa disebut dengan istilah Pauleh Naiak. banyak kesenian tradisi yang di tampilkan di acara pembukaan. Seperti, Tari pasambahan, gandang tambua, ulu ambek, dan lain-lain. Semuanya dihadiran khusus dalam rangka penyambutan tamu undangan. Dalam acara Pauleh naiak ini juga banyak undangan yang datang, ada : panghulu, niniak mamak, alim ulama, cadiak pandai, perangkat nagari, kecamatan, dan pemerintah daerah pun datang menghadari acara pembukaan tersebut.

Penyelenggaran alek nagari di kecamatan Nan Sabaris terselenggara atas adanya partisipasi dari masyarakat sekitar, maupun masyarakat rantau yang melakukan sistem gotong-royong. Dengan dana yang minim, dan tak adanya sponsor panitia penyelenggara menyusun acara dengan semaksimal mungkin, sumbangan-sumbangan dari masyarakat sekitar dan masyarakat rantau menjadi modal utama terselenggaranya acara alek nagari di korong Bayua, kenagarian Pauh kambar. Ditemapt lokasi alek nagari juga banyak terdapat lapak-lapak pedagang. Setiap pedagang yang membuka lapak wajib membayar kontrak tempat kepada panitia selama alek nagari berlangsung dan uang parkir kendaraan, penjualan tiket masuk pun juga menjadi penambahan modal bagi panitia penyelenggara.

Semua dana yang sudah terkumpul di gunakan untuk kesuksesan acara seperti mengundang grup-grup kesenian tradisi yang ada disekitaran Pariaman untuk mengisi acara alek nagari, seperti grup kesenian ulu ambek , grup kesenian indang. Bukan hanya pertunjukan kesenian tradisi saja yang ditampilkan tapi juga pertunjukan populer yaitu orgen tunggal.

Dalam perencanaan panitia, penyelenggaraan alek nagari di Korong Bayua ini akan dilaksanan dalam satu bulan. Selama dua belas hari acara diselenggarakan hanya dua kesenian tradisi yang baru ditampil kan, padahal di daerah Minangkabau begitu banyak kesenian tradisi yang menarik untuk ditampilkan dalam acara tersebut. Menarik sekali untu mengatahui lebih lanjut tentang hal ini. Apa permasalahannya sehingga hanya beberapa kesenian saja yang ditampilkan. Saya melakukan sedikit diskusi dengan bapak Tomas, beliau adalah ketua panatia pelaksana alek nagari. Dari diskusi itu saya mempertanyakan masalah pertunjukan kesenian tradisi yang akan ditampilkan. Apakah pertunjukan ini hanya kesenian ulu ambek dan kesenian indang saja yang akan ditampilkan? Bapak tomas menjawab dengan tegas, selaku panitia pelaksana beliau ingin sekali menampilkan pertunjukan tradisi bukan dari daerah Pariaman saja, tapi kesenian tradisi dari luar Pariaman, seperti kesenian tradisi dari Payakumbuh, Agam, Batusangkar, dan masih banyak lagi daerah lainnya. Tapi ternyata  terjadi sedikit permasalahan pada anggaran dana, Karena untuk mengundang salah satu grup kesenian itu memerlukan dana yang lumayan besar.

Dan saya menanayakan, apakah sumbangan masyarakat, kontrak lapak pedagang, uang parkir dan tiket masuk cukup untuk mendantagkan satu grup kesenian? Beliau menjawab cukup, tapi permasalahannya masih banyak “PK pitih kalua daripada PM pitih masuak” (lebih banyak dana yang keluar dari pada dana masukan)”, ujar bapak tomas.

Saya embali bertanya, “Apakah ada perhatian pemerintah daerah terhadap acara alek nagari d korong bayua ini?”

“Perhatian pemerintah ada, dalam acara pembukaan pemerintah daerah pun ikut hadir dalam memenuhi undangan. Pengajuan proposal untuk bantuan dana pun telah di ajukan kepada pemerintah, tapi sampai saat sekarang ini tidak ada respon dari pemerintah daerah”. Jawab Tomas

Begitu kurang perhatian pemerintah atas perkembangan kesenian tradisi, bapak tomas pun mengharapkan untuk perkembangan kesenian tradisi ini kita perlu bekerja sama untuk melakukan perubahan, jangan sampai kesenian tradisi yang kita miliki ditinggalkan. Dan berharap pemerintah bisa memberikan bantuan kepada setiap kecamatan yang ada di Kabupaten Padang Pariaman untuk membangun banyak laga-laga (Arena/Panggung) sebagai tempat latihan.

Acara alek nagari di korong bayua, ini bertujuan untuk meningkatkan hubungan silahturahmi antar masyarkat, pangghulu, niniak mamak antara suku dalam  ber-nagari. Bapak Tomas dan para panitia penyelenggra alek nagari, juga menyatakan seandainya acara yang diselenggarakan ini mendapat untung, dananya akan digunakan untuk pembangunan nagari, seperti pembangunan mesjid atau surau, memperbaiki sarana umum, jalan, jembatan, dan laga-laga.

Masyarakat kenagarian Pauh Kambar khususnya, sangat berharap acara alek nagari ini bisa diselenggarakan dalam setiap tahunnya, dan mendapatkan perhatian dari pemerintah daerah untuk turut mendukung ativitas kesenian rakyat. Semoga eksistensi kesenian tradisi yang ada di daerah Pariaman terus berkembang. (wendi)

Profil Penulis (Wendi)Wendi Nanda Pratama, biasa di panggil Wendi. Pria kelahiran Jakarta, 09 November 1990 ini dibesaran di PAdangpariaman, Sumatera Barat. Wendi saat ini sedang dalam studi di ISI Padangpanjang sejak tahun 2009. Pengalaman kuliah, serta perhatiannya terhadap kesenian daerah yang telah membesarkannya membuat dirinya tertarik untuk menuliskannya. Saat ini wendi juga tertarik untuk mendalami seni budaya lainnya yang ada di Indonesia.

2 comments on “Untuk Sebuah Laga-Laga

  1. Tio
    1 Juni 2012

    Wah mulia skali.. Semoga pemerintah yg bersangkutan baca tulisan wendi
    emang bnyak ya pemerintah yang kurang perhatian terhadap kesenian daerah tp itu juga karena masyarakatnya juga enggan melestarikan…kalau ini lain.. Masyarakatnya juga antusias. Sudah sewajarnya pemerintahnya lebih antusias lagi.

    Semoga mimpi wendi sampai.

    Ohya laga-laga tu semacam pentas permanen atau pendopo2 tempat masyarakat bekesenian ya??

  2. dewa bujaDIL
    6 Juni 2012

    karena orang2 pemerintah tidak ada yang berlatar belakang kesenian,, mereka tidak paham kesenian sebagai akar budaya bangsa ini,, padahal hanya kesenian lah yang bisa membuat negara ini bisa dikenal dunia,, dari segi lain tidak ada yang bisa dibanggakan indonesia,, jadi kita sebagai calon seniman wajib mempertahankanya,, semangaaaaaaaaaaaaaaaaatttttttttttttttttttttttt

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

On Twitter

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: