BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Bukan Lagu Telanjang

Ilustrasi gambar diambil dari art.com

Istilah “telanjang” kali ini saya harap tidak divisualisasikan dalam konteks porno. Telanjang dala konteks ini sama gelari pada beberapa song text (syair)  lagu minang populer era  2000-an (dua ribu-an). Telanjang berarti tidak menggunakan pakaian. Konotasi dari telanjang dalam konteks ini saya alegorikan untuk sesuatu yang tidak di konstruksikan masyarakat Minangkabau sebagai hal ‘muarahan’, karena ia tidak ada lagi yang memancing sensibilitas dan sikap penasaran kita untuk mengetahuinya lebih dalam. Telanjang dalam konteksi ini juga hampir memliki arti yang sama dengan kata “instant”; siap saji hingga konsumen pun tidak repot. Telanjang bagi saya adalah penurunan drastis nilai sastra Minangkabau yang banyak tercermn pada musik populer Minang dewasa ini.

Lalu bagaimana lagu yang tidak telanjang?. Penulis mengambil satu sampel yang mana bisa menjadi salah satu panutan untuk bersama-sama membangun nilai mahal musik populer minang. seperti pada lagu “Dek kuek Lompek” yang jika penulis ponten akan dapat nilai 7+ (tujuh setengah). Untuk nilai 9 (sembilan), bagi menulis saat ini masih milik jawara tunggal Tiar Ramon. Namun untuk lagu populer tahun 2000-an lagu tersebut bisa dapat ponten 8+ (delapatn setengah).

Lagu “Dek Kuek Lompek”, lagu ini saya temukan beberapa waktu lalu pada salah satu toko kaset di Padangpanjang. Lagu ini dinyanyikan oleh artis muda Silvia Melon. Lagu Dek Kuek Lompek versi Silvia Melon ini diproduksi oleh Tanama Record Padang pada album Indang Toboh Gadang. Ada hal menarik dari unsur estetika yang dikandung lagu ini. Secara garis besar lagu memiliki dua wujud estetika (appearance) yang menarik untuk ditelaah. Yaitu, song text (syair) dan melodi lagu.

Syair lagu “Dek Kuek Lompek” ditulis oleh Ahmad Rolis. Sedangkan melodi lagu diambil dari lagu kesenian indang Pariaman yang telah dikemas kedalam bentuk musik populer.

Musik dan melodi pada lagu ini dimainkan dengan alat musik komputer atau thecno instrument. Pola melodi dendang masih memliki prinsip yang sama dengan karakter meolodi kesenian indang asli, maksudnya jika pola pantun ABCD maka melodi musik pada A dan C sama, dan begitu juga dengan B dan D. Pada bagian D biasanya terdapat pengulangan melodi seperti saling sahut menyahut (Call and Respon). kemudian diakhir pantun biasanya disambung dengan interlude dan kembali lagi pada pola melodi pantun tadi, begitu seterusnya hingga habis.

Setiap lagu dalam album ini memiliki beberapa melodi yang sama, hanya disana di tuliskan judul lagu dan syair yang berbeda- beda. Satu hal yang khas dalam music popular yaitu musik pada lagu hanya untuk mendukung syair saja. Dari hal tersebut dapat dinilai bahwasanya bobot (content) dari subjek estetika ini terangkum pada intristik dan ektirstik syair tersebut.

Sesuai fenomena yang diungkapkan syair dapat dilihat lagi masalah yang akan  disampaikan penyair.  “…Bina lah mambina oi didalam desa ..ndeh sanak, Tiang utamo ndeh kanduang kito basatu…”. (mari lah saling membina dalam desa, tiang utama unutk kita bersatu). Kata “lah” pada baris tersebut mempertegas bahwasanya kalimat tersebut berupa kalimat ajakan. Penyair terlihat menyadari suatu fenomena yang mana suatu desa yang penduduknya tidak bersatu karena kurangnya saling ‘bina – membina’ antar penduduknya.

Penyair mengajak pendengarnya untuk saling intospeksi dan saling membina di lingkungan tempat dimana para pendengarnya berkembang agar dapat bersatu dan sejahtera. Selain itu penyair juga mem-propoganda-i pendengarnya dengan menawarkan solusi sesuai dengan paradigma penyair untuk menanggapi fenomena yang dibahas. Berikut beberapa potongan syair yang bersifat mengajak, dan menawarkan solusi:

Bina lah mambina oi didalam desa ..ndeh sanak
Tiang utamo ndeh kanduang kito basatu
Patah lah tumbuah he yo ilang baganti ..ndeh sanak
Didalam do kanduang desa kan banyak suku
 
            (bina-membinalah dalam desa
            Tiang utama kita bersatu
            Patah tumbuh hilang berganti
            Didalam desa ada banyak suku)
 
Di dalam desa e e kan banyak suku ..lai do malang
Ado mangatokan yo kanduang dalam pepatah
Kalau lai rato yo nan kanai pupuak .. yo kanduang
Bia nak elok yo malang padi disawah
 
(Didadalam desa ada banyak suku
Seperti dalam pepatah
Kalau semuanya rata dipupuk
Padi disawah akan bagus)
 
Cubolah pareso ndeh ka bangka hulu ..ndeh sanak
Antah ko ado do kanduang rantiang nan patah 2x
Mupakaik lah karo oi usah dibuek ..ndeh malang
Dek kuek lompek do kanduang jatuah ka bawah 2x
 
            (coba periksa ke pangkalnya
            Siapa tau ada ranting yang patah
            Mufakat kera tak usah dipakai
            Karena kuatnya lompatan, akhirnya jatuh)
 

Pada potongan syair pertama diatas, penyair mengaja kuntuk saling membina dengan saling memanfaatkan keuntungan atau kelebihan masing-masing suku dalam sebuah desa tersebut. Kemudian pada potongan kedua, penyair juga mengingatkan agar setiap suku dalam suatu desa mendapatakan hak, menjalankank kewajiban, dan diperhatikan secara adil agar terciptanya karakter desa yang bagus. Karakter desa yang bagus disini cendrung diartikan sebagai sesuatu kekuatan dalam kekompakan. Seterusnya pada potongan ketiga, penyair berkeinginan agar masyarakat menelaah setiap persoalan yang ada hingga ke pangkalnya, kemudian membahasnya dalam suatu musyawarah mufakat. Kembali penyair mengingatkan bahwasanya mufakat kera, atau mufakat yang awalnya “iya” kemudian bersikap “tidak” , itu jangan dipakai, karena hanya akan menyebabkan kehancuran.

Satu hal lagi yang menarik dari beberapa potongan syair diatas. Penyair tetap mempertahankan ke-khas-an sastra minang yang cendrung ber-metafora, mengalogikan sesuatu melalui karakter alam. Hal ini tak lain karena presepsi umum masyarakat Minangkabau yang menganggap bahwasanya alam adalah guru yang natural, paling benar dan tidak memanipulasi ataupun mengecoh. Walaupun masalah yang dibahas dalam lagu tersebut bersifat kontemporer, namun penyair sama sekali tidak menguruangi nilai syairnya dengan mengalogikan syairnya pada fenomena alam kontemporer, seperti lagu minang popular yang berkembang lainnya sejak beberapa dekade lalu.

Pengibaratan, itulah yang dilakukan penyair. Sehingga pantun empat barispun jika dijabarkan akan menjelma menjadi satu paragraf atau lebih. Penyair tidak ingin terkesan menganggap remeh pendengarnya, atau merendahakn nilai syairnya dengan song teks yang begitu telanjang. Melainkan tetap mengutamakan kekritisan berffikir, filosofi hidup, dan fungsi edukatif yang harus tetap tercapai.

Penampilan ‘subjek estetika’ ini dihadirkan dalam bentuk video klib. Selain syair ada banyak lagi hal yang menarik dari vidio tersebut. Kostum penyanyi (artis) disini terlihat selaras dengan tujuan lagu. Penyanyi di kostum atau dirias hingga terkesan sebagai orang yang intelek. Sesuai dengan sosok yang dibutuhkan untuk seseorang yang bertindak sebagai “pengajak” dan “pemberi solusi”. Sedikit yang menjadi kekurangan dari klip, yaitu, kurangnya  penyorotan rekaman gambar suasana sesuai dengan fenomena yang dibahas pada lagu tersebut. (ARP)

Albert Rahman Putra,

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: