BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Kajian Organologi Saluang Sirompak

“Saluang Sirompak”; Minangkabau Blown Instrument*

Oleh: Albert Rahman Putra

 
Saluang Sirompak tumbuh dan berkembang di desa Taeh Barueh Kabupaten Lima Puluh Kota, Sumatera Barat. Saluang Sirompak merupakan salah satu instrument selain Gasiang Tangkurak yang digunakan pada aktivitas ritual magis Basirompak. Ritual yang melibatkan dunia hitam untuk menaklukkan hati seorang wanita. Hingga kemudian aktivitas ritual magis tersebut dilarang karena betentangan dengan keyakinan masyarakat setempat.

Saat ini basirompak hadir kembali dalam bentuk seni pertunjukan rakyat. Sebuah kesenian yang dimiliki rakyat dan diakui rakyat. Basirompak dikategorikan sebagai seni pertunjukan rakyat karena memang memiliki syarat – syarat seperti adanya pola gerak,  koreografi, susunan melodi, pakem interval, alat musik pengiring, dan sebagainya. Walaupun telah mengalami perubahan fungsi, basirompak sebagai sebuah kesenian tetap memanifestasikan nilai etika dan estetika yang melatarbelakanginya.

Instument pokok yang mendukung kesenian tersebut adalah Saluang. Berbeda dengan Saluang Darek, Saluang disini lebih dikenal dengan nama “Saluang Sirompak”, atau masyarakat Taeh juga menyebutnya dengan Saluang Panjang. Dalam konteks ritual, Instrument Saluang Sirompak beperan sebagai pengiring dendang mantra yang dinayanyikan oleh Pawang Sirompak. Namun dalam kontek kesenian Saluang Sirompak mengalun mengikuti melodi lagu yang dibawakan pendendang.

Kehadiran Saluang Sirompak saat ini sudah sangat jarang sekali. Bisa dikatakan hampir mengalami kepunahan. Begitu juga seniman pembuat Saluang Sirompak tersebut juga sudah jarang.

Bagian dan Struktur Saluang Sirompak

Saluang Sirompak dari view general/dari depan

Saluang Sirompak dari view general/dari depan

Saluang Sirompak dimainkan dengan cara ditiup pada bagian ujungnya. Merujuk pada klasifikasi alat musik Minangkabau yang dikemukakan oleh Margaret J Kartomi, Saluang Sirompak tergolong pada jenis bunyi – bunyian nan dipupuik atau blown instrument. Dan secara ilmu Organologi Akustik seperti yang dikemukakan Allan P. Meriam, Saluang Sirompak dapat pula dikategorikan sebagai alat musik aerophones. Yaitu alat musik yang mengasilkan bunyi karena adanya getaran udara.

Saluang Sirompak dibuat dari potongan seruas bambu. Bambu yang baik digunakan untuk membuat salauang sirompak adalah bambu jenis Talang. Bambu Talang ini memiliki beberapa sifat-sifat alami yang spesial. Seperti memiliki ruas yang panjang, berkulit tipis, memiliki rongga lubang yang bulat dan berserat keras. Panjang ruas saluang bisa mencapai 70 cm.

Menurut Uteh, salah seorang pemain basirompak, dalam konteks ritual magis, bambu yang dipilih untuk keperluan pembuatan Saluang Sirompak adalah bambu hasil curian atau bambu yang hanyut. Dan untuk pembuatan lubang – lubang nada selalu dikaitkan dengan peristiwa kematian secara tidak wajar. Seperti bunuh diri, meninggal akibat perkelahian, dimakan binatang dan sebagainya. Karena Saluang Sirompak memiliki lima lobang nada maka Saluang Sirompak akan selesai setelah ada lima kali peristiwa kematian tidak wajar. Namun seniman pembuat Saluang Sirompak saat ini tidak lagi melakukan hal tersebut. Karena hal tersebut tidak perlu lagi dilakukan untuk pembuatan saluang dalam konteks hiburan atau seni pertunjukan.

Untuk memilih kualitas bambu yang baik beberapa seniman pembuat Saluang Sirompak dapat mengetahui kualitas yang baik melalui beberapa pengamatan seperti memilih bambu yang tumbuh ditengah-tengah rumpunnya, batangnya tinggi lurus dan warnanya agak menguning. Bulu-bulu yang melekat pada batang juga telah hilang. Pertumbuhan daun semakin berkurang, bahkan banyak yang sudah gugur, warna daun bebintik kuning becampur puith.

Sisi Bawah

Bambu tidak ber-jamur pada batangnya. Bambu yang berjamur akan memiliki bekas hitam yang dapat merusak warna kulit bambu dan menghitam. Semakin tua umur bambu tersebut semakin bagus kualitasnya untuk dijadikan saluang. Bambu yang biasa digunakan adalah bambu talang yang berusia 3 sampai 5 tahun. Batang bambu yang tua biasanya dihinggapi serangga berbisa.

Untuk ukuran fisik bambu yang pilih adalah yang memiliki ukuran panjang ruas kira – kira 70 cm. memiliki diameter antara 2 sampai 2,5 cm. dan tebalnya lebih kurang 1 hingga 2 mm. Bambu tersebut memiliki bagian yang terdiri dari bagian ujung sebelah atas dan bagian pakal (ujung sebelah bawah). Bagian bambu yang dijadikan sebagai ujung sebelah atas adalah ruas bambu bagian bawah. Untuk pemotongan awal biasanya bambu dipotong sekita 75 cm dulu.

Lubang pertama dibuat pada posisi dua pertiga dari panjang bambu, diukur dari ujung sebelah atas. Dan untuk lubang kedua, ketiga dan keempat, masing masing berurutan kebawah dengan jarak yang sama. Yaitu kurang lebih setengah lingkaran bambu bagian bawah. Dan lubang kelima buat tepat dibelakang lubang pertama tadi. Untuk dapat mengasilkan nada yang bagus Lubang – lubang nada tersebut dibuat bulat, dengan ukuran garis tengahnya sekitar ½ cm.

Suai – Sisi bagian atas instrument

Ujung sebelah atas dan bawah bambu dibiarkan berlubang sebagaimana adanya. Yang nanti berfungsi sebagai tempat meniup (End Blown Flute) dan ujung bawah sebagi tempat pelapasan udara. Pada ujung sebelah atas bambu (tempat meniup) diraut runcing sekitar 45 derajat setebal bambu tersebut. Atau masyarakat Minangkabau lebih mengenalnya dengan istilah Suai.

Dekorasi dan Ornament.

Dekorasi dan ornament pada Saluang Sirompak biasanya berupa ukiran atau lukisan yang pada badan bagian luar saluang. Tidak ada aturan khusus untuk motif tersebut. Biasanya motif dibuat sesuai dengan karakter si peniup saluang. Misalnya motif kalo atau sipasan. Ukiran ini melatarbelakangi kekuatan bunyi saluang, agar bisa mempengaruhi dan menyentuh perasaan si-pendengar. Disamping itu dapat memperteguh keyakinan si penonton agar lebih ekspresif dalam memainkannya.

Produksi Bunyi

Empat Lubang Nada di sisi depan

Sebagai sebuah seni pertunjukan, basirompak merupakan fenomena musical yang langka. Beberapa unsur musikalnya sangat berbeda jika dibandingkan dengan kebanyakan musik tradisional pada umumnya yang perkembang di Minangkabau. Perbedaan mendasar secara musical pada kesenian ini dapat dilihat pada rangkaian nadanya. Rankaian nada pokok pada Saluang Sirompak hanya enam nada. Urutan rangkaian nada tersebut dapat dikatakan mirip dengan urutan tangga nada hexatonic dengan jarak nada 1½-1-1-1-½  sedangkan yang umum berlaku pada urutan nada-nada musik tradisional Minangkabau (wilayah darek) memiliki kemiripan dengan tangga tangga nada pentatonic yaitu dengan jarak nada 1-1-½-1.

Saluang Sirompak memiliki enam macam nada namun sebagai alat musik kesenian tradisional Saluang Sirompak belum memilki symbol-simbol nada khusus untuk menamakan nada-nada yang mereka miliki. Namun jika diidentifkasikan terhadap simbol – simbol solmisasi musik barat maka dapat dikatakan bahwa sistem nada (laras) alat musik saluang sirompak adalah fi, la, si, do, re, ri (do=e-35). Nada – nadanya tentu tidak sesuai dengan nada di piano, tetapi nada yang sesuai dengan “telinga” dan “rasa” musical masyarakat tradisonal minangkabau. (marzam “basirompak” 2002)

Cara Memainkan Saluang Sirompak

Untuk mengahasilkan nada saluang sirompak ditiup di ujung bagiannya (Vertical Notchet Flute). Dibagian ujung tempat peniupan akan terdapat suai yang memudahakan peniup mengatur posisi mulut, dan agar mulut tetap nyaman serta tidak sakit saat meniup. Posisi ujung saluang sirompak pada bibir adalah dibagian samping bibir, kira-kira posisi saluang 45 derajat dari bibir.

Satu Lubang Nada di Sisi belakang

Setiap lobang nada dilepaskan dan ditutup dengan jari sesuai dengan kebutuhan nada.saluang sirompak lazimnya dimainkan dengan posisi bersila. Namun tidak tertutup kemungkinan jika dimainkan sambil berdiri atau duduk diatas kursi.

Cara Menghasilkan Nada

Cara menghasilkan nada pertama yang mendekati bunyi fi pada solmisasi musik barat, yaitu dengan cara meniupkan saluang sirompak dengan menutup kelima lubang nada.

Cara menghasilkan nada kedua yang mendekati bunyi la pada solmisasi musik barat, yaitu dengan cara meniupkan saluang sirompak dengan menutup emapt lobang (menutup tiga lobang bagian atas dan satu lubang bagian belakang.)

Cara menghasilkan nada ketiga yang mendekati bunyi si pada solmisasi musik barat, yaitu dengan cara meniupkan saluang sirompak dengan menutup tiga lubang (menutup dua lobang bagian atas dan satu lubang bagian belakang.)

Cara menghasilkan nada keempat yang mendekati bunyi do pada solmisasi musik barat, yaitu dengan cara meniupkan saluang sirompak dengan melepaskan tiga buah lobang bawah bagian depan atau menutup dua lubang (menutup satu lubang bagian atas dan satu lubang bagian belakang.)

Cara menghasilkan nada kelima yang mendekati bunyi re pada solmisasi musik barat, yaitu dengan cara meniupkan saluang sirompak dengan melepaskan semua lubang bagian depan atau hanya menutup satu lubang bagian belakang.

Cara menghasilkan nada keenam yang mendekati bunyi ri pada solmisasi musik barat, yaitu dengan cara meniupkan saluang sirompak dengan melepaskan semua lubang nada.

Saat ini sedikit banyaknya informasi tetang Saluang Sirompak biasanya hanya disampaikan secara oral saja. Dari mulut ke mulut. Sedikit sekali informasi tertulis untuk Saluang Sirompak ini.

______________________

*Makalah ini dipresentasikan pada tahun 2010 di ISI Padangpanjang

_____________________________

Pustaka:

Marzam, “Basirompak” 2002

ZAinudin “Study Organologi Saluang Sirompak di Desa Taeh Baruah, Kecamatan Payakumbuh Kabupaten Lima Puluh Kota”, 1997

5 comments on “Kajian Organologi Saluang Sirompak

  1. syukri,s.sn
    11 Maret 2012

    mantap….
    ditunggu tulisan kajian organologi lainnya.
    silahkan singgah ke blog kami, kami sedang dalam penulisan kajian organologi talempong batuang

    • ARP
      12 Maret 2012

      iya mas,,, ;D

  2. zulmarfan,s.sn
    16 Mei 2012

    apa dalam penulisan artikel untuk kajian organologi saluang sirompak tidak di bolehkan menmcantumkan beberapa bait repertoar lagu dari kesenian sirompak ???????

  3. ARP
    16 Mei 2012

    trimakasih atas tanggapannya uda zulmarfan. Setiap konten atau artikel yg di publish di blog ini adalah karya orisinil yang di kirimkan penulis. Sepertinya penulis lebih fokus terhadap instrument dan organology salung sirompak itu sendiri.

    Mungkin uda zul tertarik untu berkontribusi juga atau ingin menambahkan bahasan tentang lirik, silahkan kirimkan tulisanya ke email: bujangkatapel@yahoo.co.id

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

On Twitter

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: