BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Kulele dan Punk

Peran Penting Musik Kulele di Komunitas Punk

oleh: Rika Wirandi

Sekilas ketika berbicara tentang punk / anak punk pasti yang terbersit dalam benak kita adalah sekumpulan orang-orang urakan dengan style ekstrem dan perilaku tak biasa, negatif itulah intinya. Image negatif yang selalu melekat pada mereka tak lain karena konsep budaya luar yang mereka adopsi menurut asal mula sejarah dari sub-culture punk tersebut. Namun, di balik semua itu banyak hal yang tidak diketahui oleh masyarakat luas pada umumnya yang hanya melihat kulit luarnya saja. Akan tetapi dari segi realita punk adalah sebuah simbol kemandirian, sebuah perjuangan atas kesenjangan sosial, teriakan anak muda yang mengharapkan secuil rasa keadilan untuk semua golongan terutama pada kaum minoritas. Di sinilah mereka bangun kreatifitas dalam komunitas yang mereka sebut dengan punk.

Punk adalah gaya hidup (lifestyle) yang menonjolkan kemandirian dan kebebasan dalam ruang lingkup pemikiran mereka sendiri berkreatifitas dengan menjadikan jalanan sebagai media untuk berkarya lewat musik-musik sederhana. Ukulele/kulele adalah instrument musik yang mereka anggap tepat berada di lingkungan tempat mereka berkarya dan berkumpul bersama.dibentangan trotoar, disitulah panggung tempat mereka bernyanyi dan berteriak sendu. Menyuarakan bait-bait orasi yang menyentuh semua golongan tanpa memandang status sosial, kasta dan perbedaan yang ada. Kulele mampu menyatukan itu semua. Instrument yang berasal dari hawai ini telah lama menjadi bagian dan hadir di tengah-tengah komunitas punk. Seakan-akan telah menjadi ciri khas ala musik jalanan mereka. Kulele dianggap sebagai alat musik yang praktis dan bisa dibawa kemana-mana, dengan ukurannya yang kecil daripada gitar pada umumnya. Kulele atau yang akrab dengan nama kentrung (dibaca kencrung) ini memiliki bunyi yang khas dan unik. Instrument ini hanya memiliki 4 (empat) dawai dengan memakai teknik petikan-petikan bernuansa keroncong, menambah lengkap keunikannya sebagai media seni kreatifitas dan hiburan mereka di jalanan.

Kulele juga biasa dipasangkan dengan sebuah alat inovasi karya mereka sendiri yaitu instrument perkusi kecil yang terbuat dari 4 (empat) pipa dengan ukuran berbeda-beda yang memakai karet benen bekas sebagai membrannya. Alat ini dinamakan ketipung. Instrument pukul yang bermuka satu inilah yang menjadi pelengkap ritme jalanan, dengan pola ketukan sederhana mengiringi petikan-petikan dawai kulele. Sekaligus menjadi ritme yang mengalun untuk mendendangkan lirik-lirik pedas dan kritikan-kritikan tajam mereka.

Tak hanya di komunitas punk. Kulele juga menjadi salah satu instrument pelengkap di setiap orkes-orkes keroncong di nusantara. Terutama di bagian pulau Jawa, tetapi pada umumnya kulele yang dipakai pada orkes-orkes keroncong memiliki 3 (tiga) dawai, mungkin karena kebutuhan warna bunyi dan karakter khas keroncong tersebut. Ada 2 jenis kulele yang dipakai dalam orkes keroncong pada umumnya yaitu :

  1. Kulele Cuk, berdawai 3 (nilon), urutan nadanya adalah G, B dan E, sebagai alat musik utama yang menyuarakan crong-crong sehingga disebut keroncong
  2. Kulele Cak, berdawai 4 (baja), urutan nadanya A, D, Fis dan B. Jadi ketika alat musik lain memainkan tangga nada C, kulele cak bermain pada tangga nada E (di kenal dengan sebutan in F).

Kulele memiliki peran yang sangat penting dikedua kelompok tersebut, terutama pada komunitas punk, kehadirannya seakan menjadi sebuah harmoni di tengah-tengah realita pergerakan  anak-anak muda (youth movement) yang mencita-citakan tatanan masyarakat yang bisa menerima setiap jengkal perbedaan. Bagi mereka musik takkan bisa dipisahkan dari kehidupan dan jalan hidup yang telah mereka pilih, ini terlihat dalam idealisme bermusik yang begitu kental, semuanya mereka suarakan lewat lirik-lirik yang memuat pesan moral, kritis dan jujur. Idealisme yang selalu mereka pertahankan lewat tatanan konsep kesetaraan yang mereka cita-citakan sejak awal. seakan menjadi satu mimpi dan satu bukti yang tampak jelas di tiap getar dawai kulele.

Ada bagian yang tak terpisahkan antara keduanya, yaitu sebuah keharmonisan antara musik dan kehidupan, antara kreatifitas dan seni, bagi mereka kulele lah yang paling tepat menjadi media untuk menyalurkan apa yang ada di benak dan hati mereka yaitu sebuah teriakan kecil untuk menyuarakan ketidak adilan yang mereka terima, kemerosotan moral para pemimpin negeri ini, kesenjangan sosial, dan begitu tidak berpihaknya hukum. Intinya mereka menyuarakan pemberontakan lewat lirik-lirik lagu, pemikiran dan kreatifitas lainnya. Dengan petikan demi petikan dawai kulele, Disitulah terselip banyak harapan yang sangat amat banyak dan bermakna. Kulele seakan-akan menjadi ikon sebuah gerbang kehidupan para penghuni jalanan yang tak bisa dipisahkan lagi dari kehidupan mereka dan anak-anak negeri yang menggantungkan hidup mereka di perempatan jalan maupun di setiap lampu merah di berbagai pelosok negeri. Sangat memprihatinkan, ya itulah yang mereka maksud dengan kesenjangan sosial. Tak ada yang mereka harapkan selain secuil rasa keadilan, kebebasan berkreatifitas, kebebasan berfikir dan menyuarakan semua yang mereka berontakan.

Jalanan memang tak menjanjikan apa-apa bagi mereka, tapi jalanan membuat mereka yakin akan adanya sebuah pengharapan untuk setiap jengkal asa dan segumpal waktu yang tersisa untuk sebuah cita-cita. Punk bukanlah sekumpulan anak-anak  rumahan yang masih mencari jati diri atau sekumpulan orang-orang yang hanya mampu memberi wacana tanpa ada aksi nyata. Tapi punk adalah sebuah sub-culture yang lahir dari sebuah kebebasan berfikir anak-anak muda yang mampu mendobrak realita atas kemerosotan moral dan ketidak berfungsiannya sistem pemerintahan di negeri ini. Punk adalah realita besar yang ada di tengah-tengah masyarakat, sadar atau tidaknya kita untuk memahami tentang arti dari sebuah perbedaan, lifestyle, maupun sikap kritis mereka.

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 29 Januari 2012 by in Arsip Blog and tagged , , , .

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

On Twitter

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: