BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Kesenian Bailau Salayo

Bailau Menuju Seni Pertunjukan*

Albert Rahman Putra**

Bailau (ba-ilau/ber-ilau/melakukan-ilau) di Salayo pada awalnya adalah sebuah ritual untuk meratapi kematian seorang anak. Dewasa ini ilau hadir sebagai salah satu seni pertunjukan di Minangkabau. Bailau hari ini biasanya hadir pada kegiatan – kegiatan adat masyarakat Salayo, seperti upacara peringatan Bundo Kanduang, festival kesenian rakyat, dan lainnya. 

Dahulunya ilau dilaksankan apa bila salah satu anak atau anggota keluarga meninggal di rantau. Dalam konteks ini ilau menjadi media pemberitahuan kepada orang di kampung bahwa salah seorang sanak saudara mereka meninggal dunia di rantau, dan jasadnya tidak dapat dikebumikan di kampung halaman. Konon, setelah masuknya Islam di Minangkabau ritual ini tidak lagi dilakasanakan masyarakat Salayo karena bertentangan dengan ajaran agama. Sejak saat itu Islam adalah agama yang mendominasi kayakinan masyarakat Minangkabau, yang sekaligus berdampak pada revolusi budaya besar-besaran. Setiap aktivitas adat yang tidak sesuai dengan anjuran atau bertentangan dengan agama berarti harus dihapuskan.Prinsin seperti ini terutama sekali didukung oleh aliran Islam muhamaddiyah yang sangat menentang pembauran aktivitas masa lampau dengan agama. Di Minangkabau, sendiri juga terdapat aliran yang disebut sebagai tarekat Sattariah yang cendrung meleburkan kebiasaan masyarakat dengan nilai-nilai Islami. Menurut Datuak Rajo Bantan ketua Kerapatan Adat Nagari Salayo, ilau, mulai ditinggalkan terutama semenjak hilangnya keterbatasan trasnportasi. Sejak munculnya alat-alat transportasi seperti pesawat, jarang sekali terdapat jenazah yang tidak dapat dipulangkan.

Pada tahun 2000-an, seniman-seniman asal Salayo, di dorong oleh pemerintah setempat, sepakat untuk tidak membiarkan tradisi ilau lenyap begitu saja, kemudian mengubah aktivitas “ba-ilau” tersebut sebagai sebuah seni pertunjukan hiburan. Perubahan fungsi ini barangkali bisa kita sebut sebagai respon dari masyarakat setempat untuk melestarikan sebuah fenomena budaya; Bailau, atau hanya persoalan menjual barang antik. Walau demikian, perubahan tersebut tetap berupaya menyiarkan nilai-nilai yang terkandung dalam ritus itu sebelumnya.

Kantor Badan Musyawarah Nagari Salayo - Tempat latihan kesenian bailau Salayo, 2011.

Kantor Badan Musyawarah Nagari Salayo – Tempat latihan kesenian bailau Salayo, 2011.

Pada tahun 2011 lalu, saya bertemu dengan beberapa pelaku kesenian bailau, dan berkesempatan menyaksikan langsung para seniman itu melakukan latihan di ruang Badan Musyawarah Adat Nagari, Salayo. Seperti halnya Bailau dalam konteks ritual meratapi kematian seorang anak, sebagai kesenian pun ia masih dimainkan oleh sekelompok ibu-ibu.  Mereka berajalan dalam pola melingkar mengikuti arah jarum jam, kemudian pemain melakukan tarian. Kesenian ini diwajahi berupa tarian dan dendang. Dua hal tersebut hadir sebagai bentuk manifestasi kesedihan oleh keluarga yang ditinggalkan. Tarian dan dendang berjalan seiring, tarian dimainkan oleh pemain yang berjalan melingkar, peran ini disebut juga sebagai pemain “gelombang” atau penari. Dan dendang dimainkan oleh seorang Tuo dendang.

Tuo dendang mengambil tempat di tengah lingkaran. Artinya, para penari “gelombang” menjadikan Tuo dendang sebagai titik tengah/titik tetap, lalu para penari begerak melintas dalam pola lingkaran mengililingi si-Tuo dendang. Di tengah pertunjukan, tuo dendang menyanyikan syair dengan ekspresi kesedihan layaknya seorang ibu kehilangan anaknya (seperti umumnya yang ditemui dalam budaya timur). Hal ini adalah tugas penting si Tuo dendang, karena kekuatan vocal dan ekspresi tuo dendang sangat mempengaruhi emosi penari dan penonton dalam menghikmati pertunjukan.

Syair si-tuo dendang berupa pantun, biasanya terdiri dari empat kalimat dengan (bunyi) akhiran yang sama atau berbeda (A-B-A-B). Isi kalimat dari pantun tersebut tidak baku, setiap grup bisa saja merubahnya sewaktu-waktu. Menurutseorang tokoh adat dan pemain dalam kesenian balaiu,  Rasidan, bailau yang sebenarnya (dalam konteks ritual_red), pada dasarnya tidak menggunakan syair-syair yang tertulis, semua kalimat pantun adalah spontanitas si tou-dendang (perempuan tua dalam garis keturunan si jenazah). Sedangkan dewasa ini, untuk kebutuhan sebuah kelompok seni ada juga mencoba menuliskannya namun itu tetap tidak baku, hanya sebagai contoh. Karena pada bailau yang sebenarnya, si-tuo dendang adalah orang yang mengenal si anak yang meninggal, kemudian membacakan kebaikan-kebaikannya dengan ekspresi yang seakan tidak menerima kepergiannya. Namun dalam konteks kesenian, tentu saja “si anak yang meninggal” hanyalah sebuah imajinasi.

Para penari Galombang tengah mempratekkan kesenian Bailau

Para penari Galombang tengah mempratekkan kesenian Bailau

Tuo Dendang sedang melantunkan syair Bailau, pada saat proses latihan.

Tuo Dendang sedang melantunkan syair Bailau, pada saat proses latihan.

Dendang pada bailau disajikan dengan cara sahut-menyahut (call and respon). Artinya si-tuo dendang akan menyanyikan syair beberapa bait, kemudian pemain yang tergabung dalam gelombang lingkaran menyambut bersama-sama dengan syair/kalimat yang lain lagi, seperti:

            Tou Dendang:

hujan lah hari sajak sanjo, handak manjalang parak siang,

hati mano ndak taibo, anak bujang alah ilang.

         Kemudian, para penari gelombang merespon dengan berlenti mengelilingi, kemudian melangkah kedalam lingkaran, sambil melantukan paduan suara, kira-kira kalimatnya seperti berikut:

Oooo weeee ooooo… hoooop…

Syair/kalimat respon dari penari gelombang pada dasarnya tidak memiliki arti kata secara harfiah, dia tidak memliki makna jika ia hadir terpisah. Tapi, saya kira ia memiliki makna tersendiri ketika ia hadir sebagai respon dari kalimat sebelumnya yang disampaikan oleh seorang yang lebih vokal (tuo dendang). Makna syair/kalimat yang dilantunkan oleh si-tuo dendang, secara umum adalah manifestasi ungkapan sesal/ratapan/frustasi (yang berlebihan, seakan tidak bisa menerima kenyataan). kemudian, respon dari penari gelombang dengan grafik melodi (contour) yang ditarik dari nada rendah kemudian dengan rampak dilepaskan dengan nada tinggi, serta aksen yang tegas, seakan mengindikasikan sebuah ‘anggukan’, atau pernyataan setuju dari makna kalimat sebelumnya, bahkan berlebihan. Seperti dalam sebuah aksi demonstrasi/unjuk rasa seorang orator menyampaikan kalimat keluhannya dengan nada menghukum/menghujat si objek demonstrasi, kemudian massa bisa saja merespon ‘setuju’ dengan hujatan yang lebih pedas lagi.

Para penari Galombang tengah mempratekkan kesenian Bailau

Para penari Galombang tengah mempratekkan kesenian Bailau

Para penari Galombang tengah mempratekkan kesenian Bailau

Para penari Galombang tengah mempratekkan kesenian Bailau

***

Bailau yang dahulunya adalah sebuah ungkapan kekecewaan, penyesalahan, dan frustasi. Kemudian setelah Islam menjadi keyakinan umum masyarakat Minangkabau (termasuk Salayo), banyak kebiasaan adat yang bertentangan/tidak relevan dengan anjuran agama dihapuskan. Bahkan hukum agama menjadi sebuah landasan adat. Hal tersebut dipertegas dengan falsafah adat Minangkabau, “Adaik basandikan syarak, syarak basandikan kitabullah, syarak mangato adaik mamakai” (adat berlandaskan syari’at, syari’at berlandaskan kitab-kitab Allah, syariat berkata maka adat mememakai/menjalankan). Yang dimaksud, kitab-kitab Allah dalam prakteknya lebih merujuk pada Alqur’an, terutama karena Alquran adalah kitab suci dari agama yang mendominasi (Islam) di kalangan masyarakat Minangkabau. Termasuk lahirnya istilah Tungku Tigo Sajarangan, yang hadir di setiap Kerapatan Adat Nagari (lembaga adat tertinggi untuk konteks nagari/desa). Tungku Tigo Sajarangan memiliki peran penting untuk menimbang keputusan mufakat disuatu nagari, yang terdiri dari: Alim Ulama (Ahli Agama Islam), Cadiak Pandai (Intelektual/orang yang dianggap pintar), dan Niniak Mamak (Pimpinan-pimpinan suku/klan). Untuk persoalan Bailau, Nabi Muhammad SAW, pucuk pimpinan umat Islam, telah mengajak umatnya untuk tidak meratapi mayat dan memperdengarkan ratapannya. Berkaitan dengan hal ini beliau bersabda:

“Wanita yang meratapi kematian, jika ia tidak bertaubat sebelum kematiannya, maka pada Hari Kiamat nanti ia akan diberdirikan sementara di atasnya besi panas dan baju koreng.”

*Bagian dari hadits yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dalam Al-Masajid, nomor 93. (lihat: http://almanhaj.or.id/content/2449/slash/0/hukum-membacakan-al-quran-kepada-orang-mati-di-dalam-rumahnya/)

Kemudian umat muslim yakin bahwa, semakin banyak ratapan yang dilontarkan, semakin banyak tangisan akan menyebabkan siksa dan penderitaan terhadap mayat yang telah meninggal.

حَدَّثَنَا عَبْدَانُ قَالَ أَخْبَرَنِي أَبِي عَنْ شُعْبَةَ عَنْ قَتَادَةَ عَنْ سَعِيدِ بْنِ الْمُسَيَّبِ عَنْ ابْنِ عُمَرَ عَنْ أَبِيهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْمَيِّتُ يُعَذَّبُ فِي قَبْرِهِ بِمَا نِيحَ عَلَيْهِ تَابَعَهُ عَبْدُ الْأَعْلَى حَدَّثَنَا يَزِيدُ بْنُ زُرَيْعٍ حَدَّثَنَا سَعِيدٌ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ وَقَالَ آدَمُ عَنْ شُعْبَةَ الْمَيِّتُ يُعَذَّبُ بِبُكَاءِ الْحَيِّ عَلَيْهِ

“Sesungguhnya mayat pasti akan disiksa disebabkan tangisan orang yang masih hidup kepadanya.” [HR. Bukhari No.1210].

بَاب حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ عَبْدِ اللَّهِ حَدَّثَنَا سُفْيَانُ حَدَّثَنَا ابْنُ الْمُنْكَدِرِ قَالَ سَمِعْتُ جَابِرَ بْنَ عَبْدِ اللَّهِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ جِيءَ بِأَبِي يَوْمَ أُحُدٍ قَدْ مُثِّلَ بِهِ حَتَّى وُضِعَ بَيْنَ يَدَيْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَقَدْ سُجِّيَ ثَوْبًا فَذَهَبْتُ أُرِيدُ أَنْ أَكْشِفَ عَنْهُ فَنَهَانِي قَوْمِي ثُمَّ ذَهَبْتُ أَكْشِفُ عَنْهُ فَنَهَانِي قَوْمِي فَأَمَرَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَرُفِعَ فَسَمِعَ صَوْتَ صَائِحَةٍ فَقَالَ مَنْ هَذِهِ فَقَالُوا ابْنَةُ عَمْرٍو أَوْ أُخْتُ عَمْرٍو قَالَ فَلِمَ تَبْكِي أَوْ لَا تَبْكِي فَمَا زَالَتْ الْمَلَائِكَةُ تُظِلُّهُ بِأَجْنِحَتِهَا حَتَّى رُفِعَ

“Mengapa kamu menangis? atau Janganlah kamu menangis, karena malaikat senantiasa akan menaunginya dgn sayap-sayapnya hingga (jenazah) ini diangkat.” [HR. Bukhari No.1211]. (lihat: http://www.mutiarahadits.com/03/94/75/larangan-meratapi-mayat.htm)

Intinya, ketaatan masyarakat Minangkabau – yang mayoritas muslim – tersebut membenarkan kehendak adat untuk meninggalkan kebiasan-kebiasan yang bertentangan dengan ajaran dan anjuran agama. Lalu apakah ilau bagian dari kebiasaan buruk itu?

Perhatian masyarakat terhadap ilau, dapat kita lihat dari pameo berikut:

“kok nyampang mati waang, bailau urang sakampuang”

(kalau seandainya kamu meninggal, orang satu kampung akan meratapinya)

Di-ilau kan seakan menjadi sesutu yang hendak dicapai oleh masyarakat. Dirindukan orang banyak ketika meninggal dunia, seakan memotivasi setiap orang untuk berlaku baik dan disenangi banyak orang. Bailau, menurut Rasidan dan Datuak Rajo Bantan (Ketua Kerapatan Adat Nagari Salayo) pada prinsipnya hanya ditujukan pada kondisi tertentu, yaitu; jika anak meninggal di perantauan, dan mayat tidak bisa dibawa pulang. Kemudian jika anak tersebut dikenal sebagai anak yang baik, diharapakan menjadi kebanggaan atau seseorang yang diharapkan dapat membangun nagari. Sekilas bailau memiliki makna tersendiri bagi masyarakat setempat. Fenomena bailau memberikan motivasi  kepada setiap anak untuk dapat menjadi seorang ‘anak yang diharapkan dan mampu membangun nagari (desa asalnya)’. Sungguhpun itu niat baik, tapi manifestasinya bertentangan dengan tuntunan agama.

Belum ada yang berani menuturkan kapan pastinya bailau muncul sebagai bentuk seni pertunjukan. Namun gejala yang bisa saya lacak, menunjukan bailau semakin semarak diselenggarakan di Salayo terutama setelah adanya otonomi daerah. Kebijakan ini hadir pada masa reformasi (1999), di mana pemerintah daerah bebas berkreasi dan berekspresi dalam rangka membangun daerahnya, tentu saja dengan tidak melanggar ketentuan hukum yaitu perundang-undangan (lihat: Otonomi daerah di Indonesia). Pada prakteknya, pola yang secara umum terbaca dari daerah non-industry/non-tambang yaitu memfokuskan pengembangan dalam aspek pariwisata (keindahan alam dan kebudayaan).

Pada masa 1960-an 1970-an, di ibu kota (kota-kota besar Indonesia)  tengah memperdebatkan soal kebudayaan nasional, kita mendengar lahirnya paham-paham seperti Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakjat) dan Manikebu (julukan anggota Lekra untuk kelompok Manifes Kebudayaan) yang menawarkan defenisi-defenisi kebudayaan nasional. Lekra hadir sejak era 1950-an, kelompok yang disebut sebagai kelompok ‘sayap kiri’ (penganut paham komunis/PKI) ini bekerja mengikuti doktrin sosialis realism (realisme sosialis) sebagai usaha-usaha untuk memenangkan hak rakyat. Dalam kelompok Lekra kita mengenal nama-nama besar seperti  Pramoedya Ananta Toer, AffandiRivai Apin, dan Hersri Setiawan. Keterbukaan mereka dalam merepresentasikan realita seringkali menimbulkan fitnah,  kerusuhan, permusuhan, dan terkesan anti-humanisme. Kemudian munculah Manikebu (1963), sebagai respon dari dominasi Lekra dan tekanan golongan kiri dan menyerukan sebuah humanisme universal. Para tokoh yang menandatangani Manifes Kebudayaan (diantaranya Arief BudimanTaufik Ismail dan Goenawan Mohammad) menyuarakan bahwa kebudayaan adalah perjuangan untuk menyempurnakan kondisi hidup manusia, tanpa mengutamakan salah satu sektor kebudayaan di atas sektor kebudayaan lain. Menariknya diantara kencangnya propoganda orang-orang di ibu kota, memperlakukan sektor seni dan kebudayaan sebagai alat mencapai kesejahteraan bangsa, para pelaku seni di daerah malah lebih tertarik untuk menghadirkan kembali barang-barang antik sebagai nilai jual pariwisata. Fenomena ini pada umumnya tercium dari banyak kesenian daerah yang akirnya menjadi agenda prioritas dinas pariwisata dalam menggaet tamu asing.

Kesenian daerah yang dimaksud termasuk salah satunya bailau. Sekalipun ia diungkit dengan alibi mempertahankan nilai tradisional, tidak membiarkan nilai-nilai budaya hilang begitu saja, melestarikan, dll. Pada prakteknya tetap saja menjualnya sebagai produk pariwisata. Beberapa orang sangat sepaham dengan ideologi ‘seni pariwisata’ ini. Banyak tokoh masyarakat dengan tegas menerbitkan tulisannya untuk mendukung strategi seni pariwisata ini, dan telah merumuskan berbagai even untuk usaha ini.

*di publis oleh: BUJANGKATAPEL Art Archives, Padangpanjang, 2012. **Penulis: Peneliti seni dan kebudayaan

*update terakhir: Maret 2015


Sumber:

A.A. Navis, 1984 Alam Terkembang Jadi Guru: Adat dan Kebudayaan Minangkabau. Jakarta: P.T. Grafiti Pers.

Irwadi, 2001, “Studi Tekstual Dendang Randai Ilau Di Nagari Kotosani Kecamatan X Koto Singkarak Kabupaten Solok” Skripsi, STSI Padangpanjang.

Zahra Kamal, “TRADISI ILAU DI NAGARI SALAYO, SOLOK (Transformasi Ritual ke Seni Pertunjukan)” laporan penelitian, STSI Padangpanjang.

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, untuk persoalan Alim Ulama (http://id.wikipedia.org/wiki/Ulama )

Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas, Otonomi daerah di Indonesia (http://id.wikipedia.org/wiki/Otonomi_daerah_di_Indonesia)

Wikipedia, the free encyclopedia, Social Realism (http://en.wikipedia.org/wiki/Social_realism)

http://www.jakarta.go.id Manifes Kebudayaan (http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/1792/Manifes-Kebudayaan)

http://www.jakarta.go.id LEKRA (http://www.jakarta.go.id/web/encyclopedia/detail/1726/Lekra)

Narasumber:

Rasidan, 52 Tahun. Ketua Grup Bailau Nagari Selayo. 2011

Marsilon Faris, Datuak Rajo Bantan, 60 Tahun. Ketua Kerapatan Adat Nagari Selayo. 2011

3 comments on “Kesenian Bailau Salayo

  1. Komunitas Gubuak Kopi
    3 Februari 2012

    Solok..
    Masyarakatnya kaya warisan budaya..
    Dan juga sangat menghormati kematian..
    Ayo akademisi Solok..
    “banyak ragam nyo budayo nan datang, budayo kito kambangkan juo”

  2. kalam
    27 Februari 2012

    bailau kalau ndag salah dulu udah nampil di gedung kesenian jakarta… ide nya bagus..;D

  3. Arif B
    18 April 2014

    melacurkan seni adalah ideologi dangkal oknum pariwisata dan kebudayaan yang dan kita diam-diam senang melihat barang antik itu dipajang atau munjual diri didepan kita. seperti yang disinggung penulis tentang Lekra dan Manikebu (belakangan saya dengar lagi yang baru dari MSPI), kebudayaan adalah persoalan penting untuk masayrakat yang lebih beradap, bebas, dan merdeka bukan sekedar misi kebudayaan oleh kedutaan yang suka “memajang barang antik di luar negeri”

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

On Twitter

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: