BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Grafis (yang) Berseni

Poster Festival Grafis 2011.  indonesia Art News
KAMIS lalu, tanggal 15 September 2011, digelar sebuah acara pembukaan yang menandai dimulainya acara “Festival Grafis Berseni 2011” (FGB 2011). Digelar di Lawangwangi Bandung. Sesuai nama yang disandangnya, festival ini hanya menampilkan karya-karya yang dibuat dengan memanfaatkan teknik seni grafis. Acara ini menampilkan puluhan karya seni grafis, dan diadakan hingga tangal 6 Oktober 2011.

Memasuki pameran ini, kita disuguhi puluhan karya dengan teknik seni grafis. Yang terbanyak adalah teknik cukil kayu dan cetak saring. Lainnya adalah etsa dan lithography, tak ketinggalan teknik yang lebih “canggih”, seperti digital print. Bagi anda yang membayangkan seni grafis sebagai seni dengan karya-karya hitam putih, kali ini anda mendapat pemandangan lain. Hampir semua karya yang ada terdiri dari berbagai rancam (campuran bermacam-macam) warna. Selain itu, karya-karya grafis dalam pameran kali ini, menghadirkan berbagai bentuk. Dari mulai bentuk non-figuratif (semisal cipratan warna), barang-barang industri, bentuk binatang, manusia bahkan sampai potret diri seniman.

Ada hal-hal menarik yang bisa kita temui ketika melihat karya-karya dalam pameran kali ini. Diantaranya melalui karya Siddhartha Kandahdjaja “Berbeda atau Sama? Atau Berbeda tapi Sama? Atau Sama tapi Dibedakan?”, menampilkan sebuah pisang kuning kecoklatan terletak di tengah-tengah bidang kertas yang polos. Gambar ini dicetak 60 edisi dan semuanya dipajang berjejer. Melalui karya ini kita kembali bisa mengingat salah satu karakter (atau ciri khas) karya-karya seni grafis yang bisa dibuat dalam edisi (diperbanyak jumlahnya). Adapula Indina Asri dengan “Why Brother Shuffing?” Sebuah perpaduan lithography dan digital print, terbagi jadi 9 kotak yang bisa diputar-putar. mengahadirkan sosok wanita renta dengan pandangan yang kosong, dominan hitam putih dengan aksen warna merah. Karya ini mengajak apresiator untuk turut serta menyusun (seperti menyusun puzzle) atau malah merusak gambar yang ada dengan cara memutar-mutar. Ia menghadirkan interaksi kongkret dengan apresiator. Lain lagi dengan “Don’t Forget Us” karya Jodi setiawan, menghadirkan sosok makhluk bulat, sekitar 30 buah, dengan ekspresi wajah yang berbeda-beda hasil dari olah cetak saring. Ketigapuluh sosok ini disusun berbaris menghadap apresiator, dengan sebuah microphone, pada bagian lain sebuah rekaman suara diperdengarkan. Apresiator seakan sedang mendengarkan sebuah paduan suara. Dalam karya ini, hasil olah grafis tidak muncul sendiri, ia membutuhkan unsur lain, seperti suara, objek microphone, pengeras suara untuk dapat menjadi sebuah karya keseluruhan. Tidak lupa, kita berhadapan dengan karya Tisna Sanjaya “Studi Pohon”. Karya Tisna seperti bermain-main dengan pemahaman dan gagasan kita tentang teknik grafis dan teknik lukis. Dua buah pot berisi pohon diletakkan di depan kaca, kemudian Tisna Membuat gambar dengan cat mengikuti outline (garis luar) bayangan pot yang terdapat di kaca. Dengan cara ini Tisna sedang meng-grafis (mencetak) karena ia menggambar objek mengikuti bayangan yang tampak pada kaca, ia memindahkan bayangan pohon menjadi gambar di atas kaca. Lain dari itu kita juga menyaksikan lelehan cat dan juga brushstroke (sapuan kuas) yang hadir akibat penggunaan cat yang encer. Kedua hal ini identik hadir pada karya-karya lukis. Anda boleh bertanya, “Apakah Tisna meng-grafis ataukah ia sedang melukis?”.

Dari mengamati pameran kali ini, ada yang bisa kita tandai, diantaranya: kekaryaan seni grafis saat ini cenderung mulai menghadirkan banyak warna. Ia tak lagi (seperti yang selama ini membayang di pikiran) hanya memunculkan warna hitam putih. Dari segi tema, seni grafis sebagai sebuah media ekspresi seniman, saat ini membuka berbagai kemungkinan akan tema dan gagasan untuk diangkat, terutama seperti yang jamak saat ini, tema-tema personal yang berangkat dari tegangan-tegangan dalam diri seniman. Karya seni grafis tak lagi dominan dengan tema-teman sosial dan politik. Dan hal yang paling tampak dalam pameran kal ini adalah sebagai sebuah media ekspresi, dengan demikian seni grafis “membuka diri” pada kemungkinan lain. Dalam pameran kali ini, kita bisa banyak melihat bagaimana teknik-teknik seni grafis dipadukan dengan teknik-teknik lain, seperti teknik lukis, drawing, kolase dan sebagainya. Penggabungan yang wajar sebagai sebuah cara berekspresi seniman. Dan penggabungan ini pula yang kemudian bisa jadi membuat karya grafis perlahan menjauh dari “ciri khasnya” sebagai karya yang bisa diperbanyak dan dibuat berulang-ulang. Penambahan teknik-teknik lain (seperti lukis dan drawing misalnya) membuat karya yang ada menjadi sebuah karya yang tunggal dan tidak bisa dibuat berulang-ulang dengan sama persis.

Satu bagian lagi yang juga bisa ditandai adalah dihadirkannya karya-karya ‘kelompok 18’. Kelompok ini diantaranya terdiri atas, Mochtar Apin, But Muchtar, G. Sidharta, Ahmad Sadali, Kaboel Suadi dan A.D. Pirous. Karya-karya ini adalah karya-karya yang dibuat pada tahun 1971, dan kesemuanya memanfaatkan tekni cetak saring. Karya-karya ini bisa membawa kita menyusuri salah satu perjalanan (sejarah) penggunaan cetak saring sebagai media berkesenian. Karya-karya ini merupakan arsip koleksi dari Galeri Soemardja.

Akhirnya, melalui pameran ini kita kembali melihat secuil perkembangan kekaryaan seni grafis kita serta melihat dan mengenali seni grafis kita. Ya, mengenali salah satu (cabang) seni rupa, yang bagaimanapun saat ini masih kalah populer dan kehadirannya tidak sesemarak seni lukis, patung, instalasi bahkan new media art misalnya. Dengan demikian kita boleh berharap, agar kegiatan-kegiatan semacam ini dapat terus dilaksanakan dan bisa jadi semakin banyak jumlahnya dengan tentunya juga disertai pembahasan dan diskusi-diskusi mengenainya. Diadakannya kegiatan workshop tentang seni grafis, seperti dalam FGB ini, merupakan upaya yang boleh mendapat apresiasi. Melalui acara-acara semacam ini, dapat memacu semangat para seniman grafis untuk terus mengeksplorasi dan memunculkan karya-karya grafisnya, dan bagi kita sebagai apresiator, dapat terus melihat, mengapresiasi dan lebih mengenal seni grafis kita yang masih lesu dan sering kali terdengar asing… ***

oleh :Danoeh Tyas

 

artikel ini di copy dari IndonesiaArtNews.com

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

On Twitter

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: