BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Komposer Kena di Hati – Elizar Koto (AKU)

Elizar Koto

Biografi

Lelaki yang akrab disapa “Aku”ini juga terlanjur dikenal dengan nama “Elizar Koto”. Padahal, bapaknya yang purnawirawan TNI itu hanya memberi nama “Elizar”, tanpa embel-embel apa-apa. Koto, katanya, diambil dari salah satu suku di masyarakat Minangkabau. Elizar dilahirkan di sebuah kampung berupa bukit kecil yang bernama Ateh Guguak Haru, Bungo Tanjuang, Batipuah, Tanah Datar, Sumatera Barat, pada 14 November 1962. Ia bungsu dari lima bersaudara.Elizar melewati masa kecilnya dengan aktivitas dan ruang lingkup budaya rural-pedesaan yang sarat nilai-nilai Islami. Mengaji dan tidur di surau menjadi tradisi. Pertunjukan seni tradisional di kampung tidak luput dari amatannya. Ia dikenal paling kreatif dan ulet dibanding teman sebayanya. Saban pagi Elizar kecil berkeliling kampung membantu ibunya berjualan kue mangkuak. Saat pulang, ia berdendang sambil memukul-mukul panci wadah kue yang telah kosong. Bakat musiknya mulai tampak di sini. Juga, samar terlihat lewat keindahannya dalam melantunkan ayat suci. Ia meraih hadiah seekor kambing berkat juara seni baca Al-Qur’an antar surau di nagarinya.

Kemampuan musiknya kian tampak ketika hijrah ke Jambi. Di kota ini, Elizar membentuk grup musik dan dipercaya mengisi program musik reguler di RRI. Ia makin yakin dengan potensi dirinya sebagai pemusik. Maka, selepas SMA, Elizar melanjutkan kuliah di Jurusan Karawitan-Akademi Seni Karawitan Indonesia (ASKI) Padangpanjang. Di kampus ini, kematangan bermusiknya kian terasah. Bahkan ia segera menyandang gelar “Komponis Muda” setelah tampil pada Pekan Komponis Indonesia di Jakarta, 1988. Dari sini, eksistensi dan pergaulannya dengan komponis besar mulai terbuka. Ia pantas berterimakasih pada Hajizar. Saudara kandung sekaligus mentor yang juga pengajar ASKI Padangpanjang ini, banyak mengenalkan dunia kreativitas dan penciptaan kepadanya.

Pada tahun 2001 Elizar melanjutkan studi pascasarjana bidang Penciptaan Seni di ISI Surakarta. Perspektif garapnya meluas saat belajar pada guru-gurunya yang multiperspektif, seperti Rahayu Supanggah, Suka Hardjana, Slamet Abdul Syukur, hingga koreografer Sardono. W. Kusumo. Tak lebih dari dua tahun, Elizar merampungkan studi lewat karya Tugas Akhir berupa komposisi musik berjudul Zikrullah. Karya berdimensi sufistik ini meraih hasil cumlaude.

Karya-karyanya semakin berderet. Dari yang menggunakan media konvensional hingga perangkat musik yang tak lazim. Untuk memperkaya imajinasi, suami dari Linda  Mansyur—penari yang telah memberinya seorang anak bernama Gaung Puja Zarianda—ini menenggelami berbagai genre musik. Dari yang etnik-tradisional, modern, hingga yang eksperimental, konseptual, bahkan yang berkategori “pra” atau “post” musik.

Untuk dua yang terakhir itu, Elizar memiliki karya monumetal dan sempat menjadi diskursus musik yang menarik. Judulnya: Ma-o-Ta alias “Dialog Tanpa Tema”—sebuah karya bermedium kaleng-kaleng bekas yang terinspirasi aktivitas masyarakat kampung dalam mengusir tupai yang menjadi hama pohon durian. Ma-o-Ta dipentaskan pada Pekan Komponis X di Bandung, 2000. Pada masa-masa ini, ia juga tergabung dalam kelompok Talago Buni.

Yang menarik adalah ikhtiarnya untuk melepaskan diri dari teori-teori yang telanjur diserapnya. “Saya tidak terpaku pada format pengetahuan yang cenderung teoritis,” tegasnya suatu kali, meski ia mengaku tak selalu mampu melakukannya. Ia sadar bahwa karya-karyanya menunjukkan jejak latihan dan pendidikan yang diperolehnya. Karena itu, yang terpenting baginya adalah memiliki takaran nilai dalam mewujudkan gagasan musiknya. Katanya, “Saya tahu akan bagus kalau terasa kena di hati.”

Dan pengampu Mata Kuliah Komposisi di Jurusan Karawitan ISI Padangpanjang ini pun melenggang dengan karya-karyanya yang “kena di hati”.

Joko S. Gombloh

Profil

Pada mulanya adalah permainan talempong pacik, yang dalam komposisi musik tradisional Minang acap dibawakan oleh tiga pemain talempong dengan teknik “saling mengunci” (interlocking). Tapi dalam genggaman Eizar Koto, musik ini bermetamorfosa pada bangunan yang lebih kompleks, dengan penambahan beberapa instrumen seperti gandang, pupuik, kaba, kacapi, canang, rebab dan sarunai serta garap pola ritme yang aduhai rumit. Bakucimang, demikian judul komposisi yang bersumber dari talempong pacik itu, sempat mengguncang Pekan Komponis di Jakarta, 1988.Komposisi tersebut menunjukkan kepekaan Elizar dalam mengeksplorasi teknik sekaligus mengobservasi instrumen tradisional Minang. Eksplorasi pola ritmenya sangat kaya. Struktur ritme saling mengunci dari talempong menguatkan posisi keseluruhan dari pengolahan potensi ritmik yang njelimet—termasuk pemakaian idiomatika permaianan taganing dari Batak. “Elizar tampak sangat menyukai garap pola ritme yang kompleks, termasuk penyertaan berbagai metrik secara rampak,” sebut mendiang Ben M. Pasaribu suatu kali. “Belum lagi teknik vokal yang unik dari basijobang,” lanjut Ben, “plus gaya bersahut-sahutan antara kaba dengan kacapi dan rebab dalam dinamika yang kontras.

Tapi Bakucimang hanyalah satu karya di antara berderet komposisi lain yang dilahirkan. Puluhan komposisi musik konser telah digubah, puluhan musik iringan tari atau teater diramunya. Dan komposisi yang memukau adalah olahannya pada musik vokal dalam Dzikrullah. Dipentaskan sebagai Tugas Akhir Pasca Sarjana, di kampung halamannya, nagari Pitalah Bungatanjuang, Elizar tampak hendak menyapa audiens lewat dimensi “sufistik”—kekuatan dahsyat yang hampir selalu menjadi sumber gagasan musikalnya; bahkan lantaran kecakapannya dalam meramu nilai spiritualitas itu, ia pernah menjadi komposer dalam “Pembukaan Festival Istiqlal” di Jakarta, 1995.

Dzikrullah, komposisi musik terdiri 4 bagian ini, terutama berangkat dari kegiatan ibadah tarekat Syattariyah di nagari Pitalah Bungatanjung, seperti Barzanji, Manamat, dan Ratik. Sebagai komponis yang memiliki gairah kompositoris yang menggelegak, ketiga garap tradisional itu dibongkar dan diolahkembangkan menuju kemungkinan-kemungkinan “musik baru”. Termasuk di dalamnya: memasukkan materi “musik tubuh”, juga elemen musikal dari aliran Syattariyah daerah lain seperti; Indang, Ratik Saman, dan Ratik Tulak Bala.

Penghadiran materi musik dari luar tubuh manusia dapat membangun dinamika dan menambah daya rangsangan emosi melalui penggarapan ritme, serta memberi intensitas terhadap efek-efek gerak yang ditimbulkan oleh gerakan permainan musik,” terang Elizar. “Materi dzikir merupakan materi utama dalam membangun aspek musikal,” imbuhnya.

La ilaha illa Allah… lafal ini terus diulang-ulang dalam intensi nada, dan pola ritme yang semakin kuat, dan dalam. Prinsip pengulangan ini sangat penting sehingga sengaja ditonjolkan. Motif-motifnya juga dilakukan secara berulang, kadang-kadang dipakai sebagai bagian integral dalam baris improvisasi dan komposisi atau sebagai interjeksi (senggakan) vokal pada akhir setiap unit musikal. Di sini, tataran garap tak lagi berada pada pengertian musik secara lahiriah. Ia mulai meninggalkan hukum-hukum musik yang lazim.

“Pengulangan memberikan sifat tak berakhir yang harus dihasilkan oleh ekspresi estetik yang diilhami tawhid untuk mencapai suatu kesadaran tentang keesaan Tuhan,” ujarnya. Dan hasilnya adalah puncak katarsis—transendental.

Elizar tampak cerdas dalam menghadirkan arti musik, bukan saja pada penikmatnya tapi juga dalam kehidupan masyarakat secara umum. Konteks dan teks (material) musik berkelindan dalam diskursus etnografi Pitalah Bungatajuang dan tarekat Syattariyah yang rigid. Bermain musik di alam pedesaan dengan menghadirkan tema keillahian adalah ikhtiar menggapai totalitas karya yang menyatukan tiga unsur kehidupan: alam, manusia, dan agama.

Pencarian eksistensi diri yang berhubungan dengan eksistensi Allah dan eksistensi alam, adalah “ruh” yang bersemayam dalam karya-karya Elizar hingga kini. Bahkan untuk karya elektroniknya sekalipun, (tetap) tumbuh dalam spiritualitas ini.


Joko S. Gombloh
foto diambil dari akun Facebook Elizar Koto

Karya

Musik Tari “Wajah-wajah Topeng”, Musik Teater “Tangga”, “Hutan Kampung” (2007)
Musik Tari “Manusia dan Peradaban” 2008
Musik Tari “Langkah”, Musik Tari “Puisi Tubuh I” (2009)
Musik Tari ”Parewa”, Musik Teater Monolog “Keluarga Mi Instan”, Musik Tari “Puisi Tubuh II”, Musik Tari “Pintu”, “Dialog Tanpa Tema II”, “Nyanyian Kampung” (2010)
Musik Tari “Dunia dalam Galau” (2011)

Kontak
Elizar Koto
Jl. Sutan Syahrir, Perumahan Silaing Permai No. 31 Kelurahan Silaing Bawah, Padangpanjang 27118 West Sumatra
*Artikel biografi ini sebelumnya sudah diposting di http://www.kelola.or.id/database/music/list/&dd_id=79&p=1
http://www.youtube.com/watch?v=N199iMAcfqU&feature=player_embedded#t=0s

2 comments on “Komposer Kena di Hati – Elizar Koto (AKU)

  1. Ping-balik: Hermaini | BUJANGKATAPEL

  2. Ping-balik: Hermaini | Albert Rahman Putra

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: