BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Randai

Kelompok Randai Talago Parayunan: Menemukan karakteristik dan strategi inovativ

Pertunjukan Randai oleh kelompok Talago Parayunan (koleksi foto Albert/Edho)

Pertunjukan Randai oleh kelompok Talago Parayunan (koleksi foto Albert/Edho)

Randai adalah salah satu kesenian Minangkabau yang cukup komplit. Di dalamnya terdapat beberapa unsur seni seperti sastra, seni drama, seni musik, dan seni tari. Pada mulanya randai adalah salah satu permainan anak surau berbentuk kesenian tari, didalamnya terdapat langkah dan gerakan seperti pencak, memainkannya berkeliling berbentuk lingkaran, dan jumlah pemainnya 6 – 12 orang. Kemudian randai membawakan kaba (cerita), dan dikembangkan layaknya sebuah teater rakyat. Beberapa peristiwa dan tokoh-tokoh tertentu dari sebuah kaba divisualisasi dan cerita didramatir, sehingga munculah permainan akting dan dialog.

Randai sebagai seni pertunjukan tradisional Minangkabau, di dalamnya terkandung unsur-unsur seni seperti tari (gelombang, tari silat), nyanyi (dendang/gurindam), Seni peran (acting-dialog), sehingga dalam menyajikan cerita/kaba terdapat pelaku/pemeran utama. Pertunjukannya dilakukan  dalam posisi melingkar (lingkaran) dan melakukan tapuak galambuak sehabis dendang/gurindam.

Para ahli teater menjuluki randai sebagai salah satu teater tradisional. Sebagai teater tradisonal, kesenian ini hingga kini masih mengalami perkembangan dan memiliki  peminat yang cukup tinggi sehingga randai yang ada sekarang sedikit banyak terdapat perubahan-perubahan. Perubahan tersebut bisa berupa penambahan unsur, pengurangan, ataupun penukaran. Salah satu randai yang cukup menarik disimak adalah kelompok randai Talago Parayunan.

Talago Parayunan adalah salah satu kelompok randai yang ada di Sumatera Barat, tepatnya di wilayah Solok. Kelompok ini cukup aktif melakukan pertunjukan randai selama dua tahun terakhir, baik itu dalam pesta adat batagak pengulu, alek pernikahan, dan lain-lain. Beberapa waktu lalu (11/05/2013), kelompok ini kembali melakukan pertunjukan randai dengan membawakan naskah Bujang Baganto, yang disusun oleh H. Mawarni Datuak Bandaro Bujang Baganto. Pertunjukan ini diselenggarakan oleh pemuda, dan tokoh masyarakat Saok Laweh di Mesjid Usang, Jorong Bungo Tanjuang, Nagari Saok Laweh, Kec. Kubung, Kab. Solok bekerjasama dengan TVRI Sumatera Barat.

Menurut Deserizal, ketua Kelompok Randai Talago Parayunnan, kelompok randai yang ia pimpin adalah inisiatif dari anak nagari Saok Laweh, mereka padawalnya hanya latihan-latihan saja di sasaran ampang-ampang satu nagari Saok Laweh setiap sabtu malam.Setelah banyak peninggkatan (kemahiran) dari anggota kelompok ini, barulah sekitar dua tahun terakhir, sering diminta untuk melakukan pertunjukan di berbagai daerah di Sumatera Barat.

Seperti pada kelompok randai umunya, unsur garapan pokok randai pada Kelompok Talago Parayunan secara umum terdiri dari Gerak Gelombang, garapan Musik, dan cerita.

Gerak gelombang dilakukan dalam posisi melingkar. Pada awalnya gerakan tersebut banyak bersumber dari gerak pencak silat. Namun dalam perkembangannya sudah banyak menggunakan gerak joget. Seluruh pemain Gerak Gelombang ini melakukan gerakan-gerakan yang serempak di bawah pimpinan tukang goreh. Seperti pada kelompok randai secara umumnnya, Tukang goreh dipandang sebagai pemimpin utama bagi kelancaran gerak gelombang. Menurut Deserizal, tukang goreh juga sangat menentukan mengangkat suasana pertunjukan. Apabila suasana pertunjukan mengendor, maka tukang goreh harus tanggap dengan situasi itu, yaitu merubah gerak gelombang menjadi lebih dinamis dan agresif.

Gerak gelombang seiring dengan permainan tepuk galembong, tepuk paha, lentikan jari, dan ada juga dengan tepuk tangan. Selesai gerak gelombang tersebut, maka tukang goreh akan memberi tanda untuk duduk dalam posisi tetap melingkar. Tanda tersebut secara berupa sorakan Hep…, tah.., tih.., atau Heh..

Garapan Gerak Gelombang sangat erat kaitannya dengan garapan musik. Karena Musik randai bagi kelompok Talago Parayunnan merupakan bagian yang integral dalam pertunjukannya. Ia menjadi satu kesatuan dengan gerak gelombang. Pada tulisan ini penulis mengkasifikasikan musik randai kepada dua jenis, yaitu musik internal dan musik eksternal.

Musik internal adalah musik yang lahir  dari para pemain Gerak Gelombang ketika melakukan gerak gelombang, seperti bunyi tepuk galembong, tepuk paha, tepuk tangan, hentakan kaki ke tanah, teriakan hep…tah…tih…heh…, dan juga pengulangan dendang dari dendang yang dimainkan oleh pemain musik eksternal.

Musik eksternal yang dimaksud adalah musik yang menjadi bagian dalam pertunjukan randai tetapi dimainkan oleh orang-orang tertentu yang berada di luar anggota yang membentuk lingkaran (pemain Gerak Gelombang).

Pemain musik ekternal pada kelompok randai Talago Parayunnan berada di luar lingkaran yang duduk di atas tikar. Mereka terdiri dari pemain talempong sebanyak tiga orang, pemain gendang tambur satu orang, pemain saluang satu orang, pendendang yang sekaligus pemain tamburin, dan pemain bansi yang juga pemain gendang dang dut. Secara umum musik eksternal berperan sebagai musik arakan pada pembukaan dan penutupan randai, yaitu ketika pemain randai hendak memasuki lapangan dengan membentuk dua baris dan di arak oleh pemain musik seperti ensambel talempong pacik (talempong, pupuik, dan tambur) sampai pemain randai membentuk lingkaran.

Pemain musik eksternal Talago Parayunan juga akan memainkan musik ketika tokoh sedang berdialog. Dalam hal ini pemusik akan memberikan musik sesuai suasana cerita. Misalnya pada bagian cerita yang menegangkan, maka pemain musik eksternal akan memainkan musik instrumen talempong dan gendang dalam tempo yang cepat. Atau pada bagian cerita sedih, pemain musik eksternal memainkan musik instrumen bansi dengan repotoar lagu-lagu ratok, dengan tempo lambat dan dinamik yang dinamis, artinya dinamik yang dihasilkan tidak menghimpit suara percakapan/dialog tokoh yang sedag berlangsung, dan menaikan dinamik ketika tokoh tidak melakukan percakapan. Menurut deserizal, Hal ini biasa ddilakukan oleh kelompok Talago Parayunan dalam setiap pertunjukannya dengan tujuan membuat penonton terbawa dalam suasana cerita.

Peranan penting pemain musik eksternal lainnya adalah memainkan dendang pada setiap Bagian cerita atau oleh kelompok Talago Parayunanan Bagian terebut dinamakan Legaran. Dendangyang dimaksud adalah sejenis dendang tradisonal Minangkabau yang masing-masingnya bermuatan bagian dari cerita dalam bentuk pantun, diiringi dengan instrumen saluang atau bansi. Menurut Deserizal, Fungsi dendangtersebut antara lain, (1) sebagai variasi menyampaikan cerita, (2)menyatakan perubahan tempat; (3) menyatakan perubahan waktu; (4) dan, menyatakan perubahan suasana. Selain itu, Dendang juga berfungsi untuk menyampaikan bagian cerita yang tidak diaktingkan dan didialogkan.

Apabila diamati dendang yang ditampilkan pada naskah Bujang Baganto, yang dimainkan oleh Talago Parayunnan, kesan yang muncul terdiri dari dua jenis yaitu dendang jenis ratok, dan gurindam jenis gembira. Dendang jenis ratok adalah materi/reportoar dendang yang menghasilkan kesan sedih atau berhiba-hiba. Seperti Cupak Ambiak Lado. Sedangkan dendang jenis gembira adalah materi/reportoar dendang yang yang menghasilkan kesan riang gembira. Seperti, Padang Pulai dan Urang Minang.

 

ALUR CERITA DAN STRUKTUR GARAPAN MUSIK

Pertunjukan diawali dengan para pemain berjalan berbaris dua berbanjar memasuki arena pertunjukan dengan jumlah anggota 12 orang pemain Gerak Gelombang.Pemain Gerak Gelombang memasuki sasaran (pentas atau tempat pertunjukan berlangsung), diiringi dengan talempong pacik, dan lilanjutkan dengan dendang Dayang Dayni ketika pemain telah sampai di sasaran. Sementara dendang dayang dayni berlangsung para pemain Gerak Gelombang melakukan gerakan pasambahan seraca serentak dan dipandu oleh Tukang Goreh. Setelah gerakan salam tersebut pemain membentuk lingkaran dan diiringi oleh dendang Balai-Balai. Biasanya, sejauah pengamatan penulis, pada bagian ini oleh grup-grup randai lainnya hanya dilakukan degan tepukkan tangan dan tapuak galambong. Namun oleh kelompok Talago Parayunnan diiringi dengan dendang Balai-Balai yang menjadi ciri khas mereka.

Setelah dendang balai-balai selesai dan setelah pemain membentuk lingkaran, Pemain Gerak Gelombang meninggaalkan satu orang di tengah-tengah lingkaran untuk melakukan pantun pasambahan. Pasambahan tersebut diiringi oleh pemusik ekternal dengan instrumen bansi.

Setelah pasambahan dilakukan, para pemain Gerak Gelombang melakukan gerakan untuk menjemput pemain/orang yang melakukan pasambahan dan masuk kembali pada legaran. Dan dilanjutkan dengan dendang Simarantang yang merupakan penanda bahwa cerita akan dimulai. Pada dendang Simarantang, pendendang melantunkan syair yang berisi pengantar dari cerita yang segera dimainkan. Sementara itu pemain Gerak Gelombang melakukan beberapa gerakan pencak dan tepuk galembong, tepuk paha, tepuk tangan, hentakan kaki ke tanah, teriakan hep…tah…tih…heh…,.

Setelah dendang selesai, pemain gerak gelombang melakukan gerakan gelombang singkat untuk mengantarkan tokoh yang akan berdialog ditengah tengah lingkaran. Setelah dialog bagian pertama selesai, tokoh akan dijemput kembali dengan gerakan singkat seperti halnya pada bagian pasambahan. Dan begitu seterusnya hingga akhir cerita naskah. Setiap dendang juga memliki gaya gerak dan tepuk yang berbeda.

Dendang hadir pada setiap bagian  naskah.  Oleh kelompok Talago Parayunan setiap bagian tersebut dinamkan dengan legeran, artinya terdapat beberap legaran hingga naskah beakhir. Legaran pertama ditandai dengan dendang simarantang tadi.

Dendang simarantang selalu hadir pada legaran pertama cerita randai. Dendang Simarantang memliki pergerakan melodi yang cukup tenang, pada naskah Bujang Baganto, pemain dendang mencerikan pengantar cerita tentang kisah cinta yang telah terjalin antara Bujang Baganto (tokoh utama pria) dan Reno Nilam (tokoh utama wanita). Kemudian legaran kedua dilanjutkan dengan dendang Padang Pulai. Pada bagian ini pemain musik eksternal menambahkan permainan instrumen gendang dang dut untuk mengiringi dendang selain intrumen saluang. Para pemain Gerak Gelombang menyamakan gerakan mereka sesuai dengan karakter yang dihasilkan paduan musik dan gendang. Pada bagian ini dendang menceritakan pergantian waktu dan tempat tentang pertemuan tidak sengaja Reno Nilam dengan Palimo Gaga. Reno Nilam menolak Keinginan Panglimo Gaga yang hendak menikahinya.

Pada Legaran ke tiga dilanjutkan dengan dendang Urang Minang, disini dendang kembali diiringi dengan instrumen saluang dan gendang dang dut. Syairnya mencerikan pergantian tempat ketika Reno Nilam bertemu dengan mamak (paman) nya yang juga hendak menikahinya dengan Panglimo Gaga yang tidak Ia sukai. Legaran ke empat dilanjutkan dendang Cupak Ambiak Lado, Pada dendang ratok ini dendang hanya diiringi oleh musik instrumen saluang. Syairnya menceritakan suasana sedih Reno Nilam yang mendapati banyak rintangan ketika untuk hidup bersama Bujang Baganto.

Legaran ke lima dilanjutkan dengan dendang Ramalah, dendang kembali diiringi oleh musik instrumen saluang dan gendang dang dut. Pada bagian syair bercerita tentang Panglimo Gaga yang mengutus dua orang pandeka untuk membunuh Bujang Baganto. Cerita randai dengan judul Bujang Baganto ini diakhiri dengan kematian tokoh utama (Bujang Baganto) dan Reno Nilam yang akhirnya bunuh diri. Dan pertunjukan randai diakhiri dengan dendang Simarantang Tenggi. Para pemain Gerak Gelombang melakukan gerakan pasambahan kembali membentuk barisan dua berbanjar dan meninggalkan sasaran.

***

Dari pembahasan tentang pertunjukan randai yang dilakukan oleh kelompok Talago Parayunnan tadi, salah satu kesimpulan yang bisa penulis tawarkan yaitu, randai merupakan kesenian yang komplit dan terbuka terhadap perubahan. Perubahan tersebut salah satunya dapat ditemukan dalam  penggarapan gerak dan musiknya yang secara utuh diserahkan pada kelompok randai tersebut.

Penggarapan tersebut bisa saja berdasarkan pertimbangan selera penonton, emosi yang dapat mewakili alur cerita, kemampuan kelompok, atau mungkin keinginan untuk tampil berbeda.

Albert Rahman Putra, 2013

 

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 9 Januari 2011 by in Arsip Blog and tagged , , , , , , .

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

On Twitter

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: