BUJANGKATAPEL | Art Archives

Memetakan dan Membaca Arsip, Merayakan Keberagaman

Pertunjukan Wayang Kulit Bali

ilustrasi

ilustrasi

Jejak Ritual dan Animisme di Seni Pertujunkan Indonesia

Struktur Pertujukan Wayang Kulit Bali

Pola umum penyajian Wayang Kulit Bali dalam tulisan ini merujuk pada format naskah pertunjukan Wayang parwa. Dalam tugas ini saya membagi stuktur pertunjukan wayang kulit ke dalam tiga fase besar seperti pada salah satu buku sumber yang diulis oleh I Nyoman Sedana yang diedit oleh Mahdi Bahar dalam bukunya Seni Tradisi Menantang Perubahan (2004). Yaitu fase pembukaan, fase pengenmbangan naratif, dan fase ritual pembuatan air suci.

Fase pembukaan

Musik instrumentalia (gending pategak)

Di lokasi pertunjukan para pemain wayang disuguhakan jemuan kusus dengan isu isolasinya, hingga aparatus pertunjukan dipasang dalang mulai mengahanturkan sesajen (peras santun pamungkah) ke hadapan dewa pewahayangan, yakni Dewa Iswara dan Sanghyang Tri Pursa. Dan sekaligus tanda bagi para musisi untuk memainkan musik yang Gending atau reportoarnya ditentukan oleh musisi itu sendiri juga sebagai pemansan bagi para pemusik. Pada sisi lain, ini juga menyadarkan penonton bahwa pertunjukan wayang segera dimulai

Membuka kotak wayang (pamungkah)

Dalang menepuk tutup kotak wayang tiga kali dengan telapak tangannya dengan menyabda sebuah mantra yang membangunkan spirit wayang – wayangnya. Lalu para pemusik melai memainkan gending pamunkah. Dalang pun meningkatkan peranannya mengontrol tempo dengan suara cepala yang diketukan pada kotak wayang selanjutnya ketuakan ini menjadi “musik perkusi” utama yang digunakan dalang dalam berkolaborai dengan musisinya

Tari Kayonan (pengesah kayonan)

Tari ini berperan untuk mengilustrasikan secara simbolis keadaan buana maha pralaya, yakni terciptanya alam semesta melalui evolusi lima unsure alam (tana, air, angina, api, dan ether).

Jejer wayang (mangundem)

Dari ratusan wayang yang ada di dalam kotak, kini dipilih dan dipilah – pila oleh dalang tersenut. Lalu ditancapkan miring pada gedebong (batang pisang) sebagai stage, sehingga hanya bayangan hitam saja yang tampak oleh penonton meskipun hanya sedikit teridentifikas karakternya. Sejumlah wayang yang tidak terpakai dalam cerita tersebut disusun dibagian pinggir layar sebagai dekorasi.

Dalam koteks ini dalang dikenal sebagi simbol Tuhan (Maha Atma) atau lebih tepatnya simbol jiwatma, yaitu percikan tuhan yang ada pada semua makluk hidup.

Tari kayonan kedua (pengabut kayonan)

Setelah kehidupan tercipta, lalu konflik memasuki mekanisme kosmis. Yang dilukiskan secara abstrak pada tarian tersebut. Pada tahap ini tari kayonan diringi gending tau keampehan, yang berarti pohon diterpa angin. Dengan demikian lengkaplah pembukaan pertunjukan wayang kulit bali

Fase pengembangan naratif

Kemunculan tokoh dramatis (papeson)

Pada awal adegan dramatis ini mulai dilanturkan tandak, yaitu salah satu jenis tetemabangan atau dendangan. Tandak alas harum “hutan harum” mengikuti kemunculan karakter yang halus dan lembut, biasanya dicirikan dengan mata sipit dan tubuh ramping. Tandak candi rebah “candi hampir rebah” mengiringi kemunculan tokoh raksasa. Tandak bopong “demo” mengiringi kemunculan tokoh dengan kakter yang keras dan perkasa, biasanya dicirikan dengan mata bulat dedeling.

Prologue(penyacah/perwakanda).

Lalu sang dalang berprolog yang berpola kronologi mulai dari pemanjatan doa, narasi penciptaan alam semesta, sampai dengan eksposisi nama – nama dan karakter lakon dominan yang digelar pada pertunjukan bersangkutan.

Saat dalang membacakan narasi mengenai penciptaan semesta, rotasi planet – planet, lengkap dengan hokum alamnya. Para pemusik pun tetap dengan tugasnya dan memberikan penekanan – penekanan sesuai denga intonasi yang diucapkan oleh dalang.

Lalu pada bagian terakir dalang akan menyabda “warnan taya ri wajil ira…”. Yang berarti “diceritan munculnya…” kemudian disambut dengan dinamik naratif dari lakon yang dipilih saat itu mulai bergerak.

Adegan sidang (patangkilan)

Ragam kebutuhan dramatis akan menentukan adegan berikutnya dimana bisa uncul sebuah vocal “selingan raja” (panggalang ratu) atau “selingan  punakwan” (penggalang parekan). Kalau selingn punakawan yang muncul maka salah satu punakawan yang lebih tua yaitu twalen untuk tokoh protagonist atau dalem untuk tokoh antagonis bisa tampil menghibur dan memuji junjungannya dengan melontarkan sebait puisi kakawin.

Dari sifat kolaboratifnya dengan musik instrumental yang seperti demikian maka, seni vocal tersebut tapak silir yang berarti “melangkah sejalan”. Karna melodi dan ritne vokalnya persis sejalan dengan melodi musik instrumentalnya.

Adegan perjalanan (angkat – angkatan)

Bahagian ini diringi oleh pengulangan sejumlah komposisi musik yang pendek (ostinatic piece). Pada tahap ini dalang akan melantunkan seni vocal ilustratif, sementara wayang – wayang digerakan masuk da keluar ruangan kelir berkali – kali sesuai dengan kebutuhan narasi dan juga diiringi oleh gending atau reportoar – reportoar yang telah dipilih oleh pemusiknya sesuai dengan adegan. Biasanya cendrung melibatkan emosi yang bergitu tinggi dalam reportoar tersebut.

Ekspresi percintaan (rebong)

Adegan cinta dalam versi perwayangan terdiri dari tiga bagian yaitu: bahagian permulaan (kawitan), bahagian utama (pangawak)

Kegiatan kolaboratif ini sepenuhnya dikomandoi oleh dalang lewat seni vokalnya, perkusi cepala, dan gerakan wayangnya.

Adegan sedih (tetangisan)

Sesuai dengan karakterisasi adegan sedih memiliki tiga versi yang masing – masingnya diiringi oleh gending yang berbeda, yaitu: gending masem ditabuh untuk mengiringi karakter yang halus dan lembut dengan cirri mata sipit dan mulut kecil; gending rundah untuk karakter raksasa dengan cirri mulut bertaring; gending bendu samara untuk karakter keras dan kasar bercirikan mata bulat dedeling. Hanya salah satu saja yang diamainkan dalam satu adegan sedih meskipun tokoh dramatis lebih dari satu tipe.

Tarian (bapang) dalem

Punakaawan dari pihak antagonis, yaitu dalem dengan kekhasannya memulai babak kedua. Seperti halnya punakawan protagonis yang hitam gemuk, yaitu twalen, muncul dengan anaknya punakwan wredah maka, dalem juga diikuti oleh adiknya yaitu sangut yang selalu skeptis.

Para musisi memiliki tiga variasi yaitu : bahagian cepat (papeson) yang mengiringi kemunculanya, bahagian pelan (penawak) yang mengiringi tarianya bersama sangut, dan bahagian yang ekstra cepat (pakaad) yang mengakiri tarian pada klimaks. Dalang mengomandoi dan mengotrol bagian ini itu dengan gerakan wayang dan seni vokanya. Bahagian ini biasanya juga dihiasi denga dinamika humor dan kritik sosial.

Adegan perjalan II

Pada tahap ini intensitas plot menanjak sangan drastic. Beberapa kompi pasukan pemati,baik manusia maupun kera atau prajurit raksasa sering terlihat dalam perjalanan menuju perang.

Humor dan komentar social

Selingan humor bisa muncul dibeberapa bahagian. Hal ini dimunkinkan karna adanya punawakan yang muncul memberi komentar, baik dalam bentuk alegori, absurd, simbolik, fiuratif, maupun improvisasi retorik yang lucu. Semuanya memiliki tujuan kritis tertentu.

Adegan perang

Adegan ini selalu muncul pada bagian klimaks dari lakon manapun.reportoar yang digunakan yaitu gending batel. Pada bagian ini adegan humor tidak boleh dimunculkan.

Fase ritual pembuatan air suci. (suhamala)

Ritual ini bertujuan untuk menghasilkan airu suci Tirta untuk upacara rautan. Yaitu mentransformasikan air biasa dari alam sekala. Melalui bantuan dalang seorang seniman sekaligus seoarang pendeta yang berinteraksi dengan dewa – dewa di alam sacral. yang mana air suci Tirta dipercaya penting untuk keselamatan manusia yang diruat di alam duniawi.

Disini dalan sebagai pendeta dan sekaligus seniman menciptakan ruangan sacral untuk tempat penyucian manusia di alam profan. Para musisi ikut masih ikut bermain, menciptakan dan memperkuat suasana khidmat. Kolaborasi kembali sepertia mekanisme sebelumnya yang terjadi pada saat prolog, yaitu musik dan action dalang saling mendukung untuk menciptakan ketenangan dan kekhidmatan.  Para musisi harus mengikuti ketat komando dalang guna membangun laku dramatis, meliputi penyesuaian ritme, tempo, maupun reprtoar.

Dalang mengomandoi musisi dalam tiga media, yaitu: perkusi, gerak wayang dan suara vocal. Penjanbaran masing – masingnya kira – kira seperti berkut:

Perkusi

Pada awalnya perkusi hanya dilakukan oleh satu tangan dengan suara pokok Tak, yaitu suara ketukan pada kotak cepala. Kemudian dikolaborasikan dengan menggunakan kaki kanan dengan menghasilkan nada Blak. Berbagai kombinasi suara dari suara perkusi ini disebut Tabuh. Karna Tabuh dalam kaitan ini dibunyikan dengan cepala maka dinamai dengan Tabuh Cepala.

Layaknya conductor musik, dalang juga memnggunakan suara tersebut sebagai pemegang ketukan, mengubah, atau mengendalikan tempo. Disamping itu juga berfungsi untuk memperkuat gerakan – gerakan wayang atau menambah sound effect pada saat adegan perang.

Gerak wayang

Cara kedua yang digunakan dalang sebagai konduktor dalam mengomandoi musisinya adalah dengan gerak – gerik dan sikap wayang, yaitu melalui tetikasan atau sabetan. Pada dasarnya musisi paham bahwa setiap karakter memilki reportoar musik yang spesifik untuk laku tertentu, baik ketika sedang lari, bercinta, bertengkar, atau menangis.

Ngeseh adalah aksentuasi gerakan wayang, yakni sebuah kode yang harus direspon oleh para musisi untuk membuat angsel, yaitu sebuah pola ritme yang bersifat mendadak dari singkopasi aksen – aksen yang diikuti oleh pemberhentian mendadak.

Suara vocal

Berikut table yang dikutip dari karya Zurbuchen (1987) dengan kode verbalnya demikian.

Kode suara verbal Maknanya
Bawisiati Next, than, following upon
Ari wawu Just than, next, just as
Agelis Immediately, quikly
Ari tedun Upon the descent of
Ari wijil Upon the appreance
Caritanen Let it be told
Warnanen Let it be describe
Byatita Formerly, in the past
Saksana In the wink of an eye
Kancit straightaway

Pembuatan air suci tirta

Interaksi terakhir pada bahagian ini kurang ketat karena tidak terkait dengan komando, karakter dan gerak wayang. Fokus ritual yang terakhir  beralih dari fase naratif menuju ke kegiaatan actual dalang sebagai actor pada awal pementasan, yakni menghanturkan sesajen dan menyapda doa – doa. Perkusi, gerak, dan vocal dalang tidak lagi untuk narasi atau karakter wayang, melainkan untuk kehidupan dalang itu sendiri. Apda tahap akhir ini, dalang mengambil posisi “wayang” yang mana perilakunya diresponi oleh musisinya.

Jejak Ritual dan Animisme di Seni Pertujukan Indonesia

Disusun oleh: Albert Rahman Putra
 
sumber:
Bahar, Mahdi, 2004, seni tradisi menantang perubahan, stsi padang panjang pres, padang panjang.
Sumber internet:
www.wisataparlemen.com, Wayang Kulit : Sisa-sisa dari Kepercayaan Animisme dan Dynamisme.
wikipedia wayang kulit.

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini dikelola oleh @albertrahmanp, sebagai media pengarsipan personal dan kolektif, serta publikasi kajian singkat seputar seni dan sastra.

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

On Facebook

Archives (Arsip)

%d blogger menyukai ini: