BUJANGKATAPEL

Setiap Saat Merayakan Kebebasan dan Keberagaman

“Tenggelamnya Kapal Van Der Wijck” Undercover

Minggu lalu, karna lelah dengan aktivitas kampus saya mencoba menenangkan diri ketempat yang Paling Indahku. Perpustakaan kampusku. Mencoba bernostalgia dengan membongkah kutipan – kutipan artikel tentang satra di gudang kliping. Namun hal yang tidak diinginkan yang terjadi. Saya tersentak, geram, kecewa, dan marah melihat suntingan surat kabar Bintang Timur, tanggal 7 september 1962 yang mengatakan sebuah karya yang paling saya kagumi Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk itu adalah sebuah hasil dari plagiat.
Menurut Abdulla S.P karya itu adalah hasil plagiat oleh Buya Hamka terhadap buku Magdalaine karya pujangga Mesir Manfaluthi. Karna merasa tiak senang pada tulisan tersebut saya coba mencari bukti yang lebih lengkap lagi. Dan menemukan beberapa artikel dengan permasalahan yang sama. Abudllah S.P memperkuat tuduhan tersebut dalan tulisannya yang berjudul “Hamka, Benarkah Dia Mafaluthi Indonesia?” dan “Hamka, Aktor Tunggal dalam Bohong di Dunia ”. (Bohong di Dunia adalah sebuah karya Hamka). Menurut Abdullah dan Pramoedya Ananta Toer (Penolong Abdullah) Hamka menjiplak isi dan tema dari karya Manfaluthi tersebut secara mentah – mentah. Dan hanya mengganti tempata kejadian dan nama tokohnya.
Tuduhan yang lontarkan Abdullah dan Pramoedya Anata Toer menibulkan banyak tanggapan. Beberapa tanggapan yang dimuat setelah itu membuat seolah – olah ini bukanlah sebuah kritik sastra melainkan konflik politik. Bahkan Suara Merdeka mengiginkan Hamka diadili dan menuduh hamka sebagai doktor plagiator.
Dalam bidang politik saat itu Hamka adalah bekas tokoh Masyumi. Selain itu, Hamka adalah seorang Ulama besar. Atas tuduhan tersebut, pada Berita minggu, 30 september 1962 Hamka memberikan keterangan dan tanggapan bahwa ia memang terpengaruh oleh Manfaluthi. Hamka mengemukakan bahwa tuduhan plagiat itu tidak akan menjatukan dia. Ia menharapkan dibentuk panitia kesusastraan oleh Fakultas Sastra Universitas Indonesia untuk meneliti karyanya tersebut secara ilmiah.
Ternyata Abudllah dan Pramoedya melanjutkan tuduhannya tersebut. Dengan membuat perbandingan – perbandingan antara dua karya tersebut. Dengan demikian persamaan pun mulai tampak. Namun Abdullah menghapuskan kerja kreativitas Hamka yang dia anggap sebagai kotoran sisa dari keranggka aslinya. Padahal justru itulah respon Hamka terhadap Manfaluthi, yang memberikan makna sesungguhnya pada “Tengglamnya Kapal Van Der Wijck”. Bukan hanya jiplakan, melainkan tanggapan hizon harapan Hamka. Persamaan kerangka asli itu hanya merupakn tanda adanya hubungan intertekstual dari kedua karya tersebut.(Kritik Sastra Indonesia Modern, 1989).
Hamka menulis Tenggelamnya Kapal Van Der Wicjk (1939), seperti halnya karnya yang lain ia juga mengambil bahn dari karya lain, lalu mengolahnya romannya dengan horizon harapanya sendiri. Dalam hal ini Hamka membuat transformasi dari karya Manfaluthi tersebut dengan horizon harapannya senidri dengan menambahakn pemikiran keislaman, disesuaikan dengan situasi yang bernafaskan suasana di Minangkabau. Dengan menampilkan ajaran – ajaran adat Minangkabau.
Apakah karya tersebut plagiat?. Ini bukanlah plagiat karna menurut pengertian plagiat adalah menjimplak karya orang lain sebagian atau sebagian dengan membubuhkan nama sendiri sebagai pencetus. Pada kasus ini Hamka hanya terpengaruh oleh karya Manfaluthi tersebut. Dan bukanlah hal yang memalukan jika kita mendapatkan pengaruh dari hal yang kita anggap itu bagus dan benar. Dan juga bukanlah rasia lagi kalau setiap orang mendapatkan penagaruh dari setiap hal yang dikaguminya.

About these ads

Ayo tanggapi atau komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Information

This entry was posted on 26 Desember 2009 by in Art, Culture, and Literature and tagged , , , , , .

BUJANGKATAPEL JURNAL ONLINE

Blog ini diterbitkan oleh BUJANGKATAPEL, sebagai media alternatif membahas permasalahan seputar kebudayaan (Seni, Sastra, dan Filsafat).

KONTAK

Jl. Btg Suliti 76 Perumahan Batu Kubung, Kabupaten Solok - Sumatera Barat. 23761

www.bujangkatapel.wordpress.com
email: bujangkatapel@yahoo.co.id
twitter: @bujangkatapel
Facebook: Bujangkatapel Art Foundation

Archives (Arsip)

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

Bergabunglah dengan 345 pengikut lainnya.

%d bloggers like this: